BANJARBARU — Ancaman karhutla di Kalimantan Selatan tidak lagi terkonsentrasi di satu wilayah. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan 696 titik panas tersebar di hampir seluruh kabupaten dan kota, dengan 29 titik di antaranya berstatus kepastian tinggi atau level 9.
Sebaran hotspot terbesar berada di Kabupaten Banjar dengan 127 titik, disusul Hulu Sungai Selatan 115 titik, dan Tapin 104 titik. Wilayah lain seperti Hulu Sungai Utara mencatat 65 titik, Tanah Laut 58 titik, Hulu Sungai Tengah 48 titik, serta Kotabaru 46 titik.
29 Titik Level 9 Tersebar di 5 Kabupaten
Kategori level 9 menunjukkan tingkat kepastian terjadinya karhutla yang sangat tinggi. Titik-titik tersebut terdeteksi antara lain di Kecamatan Karang Intan (Banjar), Daha Selatan (Hulu Sungai Selatan), Batang Alai Utara (Hulu Sungai Tengah), Tapin Selatan, dan Pulau Laut Barat (Kotabaru).
Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas I Syamsudin Noor Banjarbaru, Fitma Surya Arghani, mengatakan sebaran titik panas terjadi hampir merata di seluruh wilayah Kalsel.
“Data koordinat dan lokasi administratif, sebaran titik panas utama meliputi Kabupaten Banjar 127 titik, Hulu Sungai Selatan 115 titik, Tapin 104 titik, Hulu Sungai Utara 65 titik, Tanah Laut 58 titik, Hulu Sungai Tengah 48 titik, serta Kotabaru 46 titik,” ujar Fitma, dikutip dari Antara.
Luas Lahan Terbakar Capai 6.905 Hektare
Angka hotspot bukan sekadar ancaman di atas kertas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Kalimantan Selatan mencatat 1.651 kejadian karhutla hingga 21 Agustus 2026, dengan total luas wilayah terbakar diperkirakan mencapai 6.905,67 hektare.
Ribuan hektare lahan yang hangus itu tersebar di berbagai kabupaten, menunjukkan bahwa penanganan di lapangan menjadi kunci utama untuk mencegah meluasnya kebakaran. Kondisi cuaca kering yang masih berlanjut dikhawatirkan akan menambah jumlah kejadian bila pengendalian tidak diperkuat.
Indeks FWI Zona Merah: Risiko Api Masih Tinggi
BMKG juga menyoroti hasil evaluasi Fire Weather Index (FWI) yang menunjukkan wilayah Kalsel didominasi indikator tingkat tinggi atau zona merah. Indeks ini menggambarkan tingginya intensitas api dan risiko kebakaran yang masih membayangi dalam beberapa hari ke depan.
Meski data satelit menjadi acuan utama, BMKG mengingatkan bahwa pemantauan hotspot menggunakan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar NOAA-20, S-NPP, TERRA, dan AQUA memiliki keterbatasan. Titik api tidak akan terdeteksi pada wilayah yang tertutup awan atau berada dalam kondisi blank zone.
Potensi Hotspot Tak Terdeteksi di Balik Awan
Artinya, 696 hotspot yang terlaporkan bukanlah gambaran utuh kondisi di lapangan. Sensor satelit hanya mendeteksi anomali suhu permukaan dibandingkan wilayah sekitarnya melalui observasi siang dan malam, sehingga titik api yang tertutup awan bisa luput dari pantauan.
Dengan dominasi indikator FWI kategori tinggi serta catatan luas lahan terbakar yang mencapai ribuan hektare, tekanan karhutla di Kalsel membutuhkan respons cepat dari seluruh pemangku kepentingan. Pemantauan berkelanjutan dan penguatan upaya pemadaman menjadi prioritas agar titik-titik panas tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas dan berdampak langsung pada masyarakat.