BANJARMASIN — Ratusan jamaah memadati area Masjid Polda Kalimantan Selatan untuk melaksanakan Salat Istisqa, Rabu (19/8) pagi. Mereka datang bukan sekadar menunaikan ibadah, melainkan membawa harapan besar agar Allah SWT segera menurunkan hujan yang sudah lama dinantikan warga Kalsel.
Kegiatan ini dipimpin langsung oleh KH. Muhammad Mukri Yunus, dengan Dr. H. Muhammad Tambrin, M.M.Pd. bertindak sebagai khatib. Situasi pagi itu masih diselimuti kabut asap tipis, menyisakan kekhawatiran akan memburuknya kualitas udara di wilayah tersebut.
Kapolda: Titik Api dan Asap Ganggu Roda Perekonomian
Kapolda Kalsel mengungkapkan bahwa kondisi kekeringan yang melanda provinsi ini sudah memprihatinkan. Dampaknya kini dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari munculnya titik api hingga kabut asap yang mengganggu aktivitas harian.
"Sudah satu bulan lebih kita di Kalsel tidak diguyur hujan. Titik api dan asap mulai mengganggu kegiatan masyarakat, sektor pertanian, peternakan serta roda perekonomian. Melalui Salat Istisqa ini, kita memohon ampunan dosa dan berdoa agar Allah SWT segera menurunkan hujan," ujar Kapolda.
Tak hanya berhenti di Banjarmasin, Kapolda juga menginstruksikan seluruh jajaran Polres di wilayah hukum Polda Kalsel untuk mengagendakan kegiatan serupa. Langkah ini diambil agar ikhtiar spiritual dilakukan secara serentak bersama masyarakat di masing-masing daerah.
Ketua DPRD Kalsel: Gangguan Penerbangan Jadi Sorotan
Dukungan datang dari Ketua DPRD Provinsi Kalsel, H. Supian HK. Ia mengapresiasi inisiatif Polda Kalsel dan menegaskan bahwa doa bersama ini merupakan hal yang paling ditunggu-tunggu masyarakat di tengah situasi sulit ini.
"Ini adalah hal yang ditunggu-tunggu masyarakat. Kemarau dan asap tidak hanya mengganggu aktivitas harian, tetapi juga menyebabkan gangguan pada penerbangan dan transportasi. Kami mengimbau masyarakat dan instansi terkait untuk turut serta memohon doa, baik secara berjamaah maupun mandiri," tutur Supian HK.
Gangguan pada sektor penerbangan menjadi kekhawatiran tambahan di tengah bencana asap. Jarak pandang yang menurun drastis akibat kabut asap berpotensi mengganggu jadwal penerbangan di Bandara Syamsudin Noor, yang menjadi pintu gerbang utama Kalsel.
Ulama Ingatkan Muhasabah Diri di Tengah Bencana
Di tengah ritual doa, KH. Muhammad Mukri Yunus mengingatkan pentingnya introspeksi diri. Menurutnya, bencana kekeringan dan kabut asap yang melanda bukan semata fenomena alam, melainkan pengingat bagi manusia untuk kembali ke jalan yang benar.
"Salat pada hakikatnya adalah doa. Bencana dan kerusakan yang terjadi tidak lepas dari ulah manusia sendiri. Karena itu, kita wajib berikhtiar dan memohon ampunan agar doa serta harapan kita dikabulkan oleh Allah SWT," ungkapnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Salat Istisqa merupakan bentuk itba' atau meneladani ajaran Rasulullah SAW dalam menghadapi ujian bencana alam. Selain ikhtiar lahir seperti pemadaman karhutla, ikhtiar batin dinilai sama pentingnya.
Polresta Banjarmasin Gelar Ibadah Serupa
Hal yang sama juga dilakukan jajaran Polresta Banjarmasin bersama Forkopimda di Lapangan Apel Mapolresta Banjarmasin. Ibadah yang dipimpin Ustadz H. Muhammad Rizal Fathoni, S.Pd. ini berlangsung khidmat dengan dihadiri sejumlah unsur muspida setempat.
Kapolresta Banjarmasin Kombes Pol. Riza Muttaqin mengatakan, pelaksanaan Salat Istisqa ini merupakan bagian dari ikhtiar lahir dan batin dalam menghadapi kondisi kemarau yang berkepanjangan. Pihaknya berharap doa yang dipanjatkan bersama-sama dapat membawa keberkahan bagi seluruh warga Kota Banjarmasin.