KALIMANTAN SELATAN — Washington, D.C. – Rencana Apple untuk mendiversifikasi pasokan chip memori dengan membeli dari dua perusahaan China, CXMT dan YMTC, menemui jalan buntu. Pemerintah AS melalui Menteri Perdagangan Howard Lutnick menyampaikan penolakan secara gamblang, seperti dikutip The Wall Street Journal.
Lutnick menyampaikan hal ini sehari setelah mengunjungi pusat manufaktur baru Apple di Houston, Texas, bersama CEO Apple Tim Cook dan Senator Ted Cruz. Kunjungan itu bagian dari komitmen investasi Apple senilai US$600 miliar (sekitar Rp 9.900 triliun) untuk manufaktur dalam negeri AS.
Mengapa Pemerintah AS Menolak?
Penolakan ini bukan tanpa alasan. YMTC sudah masuk dalam Entity List Departemen Perdagangan AS, sementara Pentagon menetapkan YMTC dan CXMT sebagai perusahaan militer China karena dugaan keterkaitan dengan militer negara tersebut.
Selain kekhawatiran soal persaingan tidak sehat dengan perusahaan AS yang bersaing melawan rival bersubsidi pemerintah China, ada masalah teknis. Apple biasanya membutuhkan komponen yang dikustomisasi untuk perangkatnya.
Argumen Apple: Chip Memori Tidak Perlu Kustomisasi
COO Apple Sabih Khan memberikan pandangan berbeda. Dalam wawancara dengan WSJ, Khan menyebut bahwa meski Apple mengkustomisasi banyak komponen iPhone, "tidak ada banyak kustomisasi" untuk chip memori. Ini membuka kemungkinan Apple memakai chip memori standar yang sudah tersedia di pasaran.
Namun jika Apple memaksa memakai chip kustom, perusahaan harus berbagi informasi produk dengan CXMT atau YMTC. Hal ini dibatasi aturan kontrol ekspor AS dan membutuhkan lisensi dari Departemen Perdagangan.
"The Trump administration is not in favor of that"
Lutnick menyampaikan sikap tegas pemerintahannya dalam wawancara setelah tur pabrik Apple di Houston. "Pemerintahan Trump tidak mendukung hal itu," ujarnya. Lutnick menegaskan harus ada "solusi lain untuk masalah memori, tapi bukan perusahaan Amerika yang hebat menggunakan memori China."
Ketika ditanya apakah dia sudah menyampaikan penolakan ini langsung ke Apple, Lutnick menjawab sudah disampaikan "secara gamblang" (plainly).
Respons Apple: Mengevaluasi Semua Opsi
Apple sendiri tidak menutup-nutupi niatnya memperluas opsi pasokan memori. Tim Cook sebelumnya berargumen AS harus "melihat semua pasokan" dan menyebut Apple sedang "mengevaluasi semua opsi" dalam panggilan pendapatan terbaru.
Laporan sebelumnya menyebut Apple sudah menguji chip memori dari CXMT dan menjajaki potensi kerja sama dengan YMTC. Langkah ini memicu sekelompok senator AS dari dua partai mendesak Apple membatalkan rencana tersebut.
Dampak ke Harga HP dan Perangkat Elektronik
Komentar dari pembaca WSJ dengan nama McFarmer menyoroti dilema konsumen. Membangun pabrik chip memori baru di AS butuh waktu bertahun-tahun sebelum bisa produksi massal. Sementara itu, kelangkaan memori berlanjut dan harga perangkat tetap tinggi.
"Bahkan jika miliaran dolar diinvestasikan hari ini untuk membangun pabrik chip memori baru di AS, setidaknya butuh beberapa tahun sebelum pabrik ini menghasilkan chip dalam jumlah wajar," tulisnya. Harga yang naik ini pun tidak otomatis turun setelah pabrik AS beroperasi karena harus menutup biaya investasi.
Bagi konsumen Indonesia, situasi ini berarti harga HP dan perangkat elektronik berpotensi tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan. Kelangkaan chip memori global yang sudah berlangsung bisa semakin panjang karena opsi pasokan Apple justru dipersempit oleh kebijakan politik.
Apple kini berada di posisi sulit: mematuhi pemerintah AS atau mencari celah lain untuk mengamankan pasokan chip. Keputusan ini akan menentukan harga perangkat Apple dan industri elektronik global secara keseluruhan.