BALANGAN — Kabupaten Balangan tidak lagi menggantungkan penanganan bencana hanya pada gerak cepat petugas lapangan. Sebuah sistem baru tengah disiapkan untuk membangun kesiapsiagaan sejak sebelum bencana terjadi, melibatkan pemerintah hingga masyarakat di tingkat paling dekat dengan wilayah rawan.
Strategi tersebut diberi nama SIGAB KENCANA LINK DESTANA, yang merupakan singkatan dari Strategi Peningkatan Ketahanan Daerah Rawan Bencana melalui Sistem Integrasi Gerakan Adaptif Berkelanjutan Kecamatan Tangguh Bencana Terhubung dengan Desa Tangguh Bencana pada BPBD Kabupaten Balangan.
Menjembatani Dua Program Nasional yang Selama Ini Berjalan Terpisah
Gagasan ini lahir dari kebutuhan untuk memperkuat koordinasi program ketangguhan bencana yang selama ini berjalan pada tingkatan berbeda. BPBD Balangan berupaya mengintegrasikan program Kecamatan Tangguh Bencana (Kencana) yang berada di bawah Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan, dengan program Desa Tangguh Bencana (Destana) yang dikelola Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Selama ini, dua program tersebut kerap berjalan sendiri-sendiri. Padahal, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni membangun kapasitas wilayah dalam menghadapi bencana.
Bukan Hanya Respons Darurat, tetapi Membangun Sistem dari Hilir
Rahmi menegaskan, sistem yang ditawarkan tidak hanya berorientasi pada penanganan ketika bencana sudah terjadi. Sistem tersebut diarahkan untuk memperkuat seluruh tahapan penanggulangan bencana, mulai dari prabencana, tanggap darurat, hingga pascabencana.
“Tujuan utamanya adalah membangun ketangguhan daerah melalui sistem yang adaptif dan berkelanjutan. Jadi, antara kecamatan dan desa yang sudah tangguh bencana tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi terhubung dan saling menguatkan,” ujarnya.
Dengan adanya hubungan yang lebih kuat antara kecamatan dan desa, informasi serta koordinasi diharapkan dapat bergerak lebih cepat ketika menghadapi kondisi darurat.
Masyarakat Jadi Garda Terdepan Pengenalan Risiko
Penguatan juga menyentuh masyarakat sebagai pihak yang berada paling dekat dengan potensi bencana. Jejaring dari desa hingga kecamatan diharapkan mampu meningkatkan kapasitas warga dalam mengenali risiko, mempersiapkan diri, dan mengambil langkah yang tepat ketika terjadi bencana.
Konsep ini menjadi penting bagi Balangan karena ketahanan bencana tidak dapat dibebankan hanya kepada BPBD. Pemerintah kecamatan, pemerintah desa, hingga masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membangun kesiapsiagaan wilayah.
Target: Percepat Respons dan Tekan Kerugian
Rahmi berharap SIGAB KENCANA LINK DESTANA tidak berhenti sebagai sebuah gagasan, tetapi dapat berkembang menjadi model penguatan ketahanan wilayah di Kabupaten Balangan. Terutama bagi wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana tinggi, keberadaan sistem yang saling terhubung dinilai dapat menjadi salah satu kunci untuk mempercepat respons dan mengurangi dampak.
“Kita ingin Balangan siap menghadapi bencana. Bukan hanya BPBD yang bergerak, tetapi seluruh elemen dari kecamatan sampai desa sudah memiliki sistem dan kesiapsiagaan yang terintegrasi,” katanya.
Pada akhirnya, strategi ini ditargetkan mampu mempercepat penanganan ketika bencana terjadi, menekan potensi kerugian, serta menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap risiko bencana. Bagi Kabupaten Balangan, langkah ini menjadi upaya membangun ketahanan wilayah yang tidak hanya kuat saat menghadapi bencana, tetapi juga lebih siap sejak jauh sebelum bencana datang.