BALANGAN — Tim Penelitian Kegiatan Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Ekspedisi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama BPBD Kabupaten Balangan memetakan potensi pamali ekologi di Pegunungan Meratus. Riset ini menyasar masyarakat adat di kawasan yang berfungsi sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Peneliti BRIN menggali sistem pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk sejumlah pantangan adat yang selama ini diyakini menjaga keseimbangan alam. Hasil identifikasi awal menunjukkan beberapa pamali memiliki korelasi langsung dengan mitigasi risiko bencana, seperti larangan membuka lahan di lereng curam yang mencegah longsor.
Pamali Ekologi yang Teridentifikasi sebagai Mitigasi Bencana
Tim peneliti menemukan setidaknya tiga jenis pamali yang relevan dengan upaya pengurangan risiko bencana di kawasan Meratus. Pertama, larangan menebang pohon di sekitar mata air yang berfungsi sebagai resapan air. Kedua, pantangan membangun rumah di tepi sungai yang rawan banjir bandang. Ketiga, larangan membakar hutan di musim kemarau yang kerap memicu kebakaran lahan.
“Pamali bukan sekadar mitos, melainkan sistem kode etik lingkungan yang telah teruji secara empiris oleh masyarakat adat,” ujar Ketua Tim Riset BRIN dalam paparannya di Balangan, pekan lalu.
Data dan Fakta Singkat Riset Pamali Meratus
- Lokasi riset: Kawasan Pegunungan Meratus, Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan
- Fokus kajian: Sistem kearifan lokal untuk mitigasi bencana hidrometeorologi
- Mitra riset: BPBD Balangan dan komunitas adat setempat
- Relevansi: Wilayah penyangga IKN yang rawan longsor dan banjir
BPBD Balangan: Kearifan Lokal Jadi Pedoman Tata Ruang
BPBD Balangan menilai temuan ini dapat diintegrasikan ke dalam kebijakan tata ruang desa. Kepala BPBD Balangan menyebut bahwa masyarakat adat Meratus selama ini sudah menerapkan prinsip mitigasi tanpa sadar melalui pamali yang mereka junjung tinggi.
“Kami akan menyusun dokumen kajian risiko bencana berbasis kearifan lokal dari hasil riset ini. Ini penting agar pembangunan di kawasan penyangga IKN tidak mengabaikan keseimbangan ekologi yang sudah dijaga turun-temurun,” katanya.
Dampak bagi Masyarakat Adat dan Pembangunan IKN
Riset ini membuka ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat adat dalam perencanaan pembangunan di Kalimantan Selatan. Sebagai daerah penyangga IKN, Pegunungan Meratus memiliki peran vital dalam menjaga siklus hidrologi dan mencegah bencana alam yang bisa berdampak hingga ke ibu kota baru.
Tim BRIN menargetkan hasil riset ini rampung pada akhir tahun 2025. Data yang terkumpul akan menjadi dasar rekomendasi kebijakan bagi pemerintah daerah dan Badan Otorita IKN dalam penyusunan rencana tata ruang kawasan penyangga.