BANJARMASIN — Kenaikan harga minyak dunia dan pelemahan nilai tukar rupiah disebut menjadi biang keladi melonjaknya harga oli di Kalimantan Selatan. Praktisi ekonomi, Rustamaji, SE MAP, mengungkapkan bahwa kenaikan ini merupakan respons alami pasar terhadap tekanan ekonomi global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Lonjakan Harga Capai Rp80.000 per Liter
Kenaikan harga paling terasa pada produk oli standar. Contohnya, oli merek umum yang sebelumnya dijual Rp55.000 per liter, kini harus ditebus konsumen dengan harga Rp80.000 per liter. Kenaikan ini terjadi secara progresif dan telah berlangsung selama beberapa bulan terakhir.
Untuk produk pelumas dengan spesifikasi tinggi, lonjakannya bahkan lebih drastis. Harganya disebut melambung hingga hampir 50 persen lebih mahal dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi ini langsung dirasakan oleh pemilik bengkel dan pengusaha transportasi di Banjarmasin dan sekitarnya.
Akar Masalah: Konflik Timur Tengah hingga Rupiah Melemah
Rustamaji merinci tiga penyebab utama di balik lonjakan ini. Pertama, ketidakstabilan politik dan keamanan di Timur Tengah. Ancaman gangguan arus lalu lintas minyak di Selat Hormuz serta sanksi internasional antara AS dan Iran mendorong harga minyak mentah dunia jenis Brent Crude Oil hingga mencapai US$126 per barel.
“Ini adalah angka tertinggi dalam empat tahun terakhir,” ujar Rustamaji. Bank Dunia bahkan memproyeksikan harga minyak akan tetap bertahan tinggi di kisaran US$115 per barel, memaksa seluruh produsen di Indonesia menyesuaikan harga jualnya.
Kedua, nilai tukar rupiah yang terus tergerus terhadap dolar AS membuat biaya impor bahan baku pelumas menjadi jauh lebih mahal. Ketiga, biaya operasional dan ongkos logistik ikut merambat naik, yang pada akhirnya dibebankan ke harga jual di tingkat konsumen.
Harapan Pengamat: Pengawasan Stok Agar Tidak Langka
Menanggapi situasi ini, Rustamaji berharap pemerintah dapat melakukan pengawasan yang konsisten terhadap ketersediaan stok oli. Ia menekankan agar pasokan barang tetap terjaga untuk mencegah kelangkaan.
“Jika pasokan terputus, harga akan melonjak lebih liar dan aktivitas ekonomi masyarakat, yang sangat bergantung pada alat transportasi dan mesin, akan mengalami hambatan serius,” pungkasnya.