KALIMANTAN SELATAN — Wacana penggabungan atau konsolidasi di antara maskapai BUMN kembali mengemuka. Dony Oskaria mengatakan, Danantara bersama BP BUMN saat ini tengah menggodok skema yang tepat untuk menyatukan kekuatan Garuda Indonesia dan anak-anak usahanya.
Mengapa Konsolidasi Diperlukan Sekarang?
Menurut Dony, industri penerbangan global tengah menghadapi tekanan biaya operasional yang tinggi, terutama dari harga avtur dan suku cadang. Dengan konsolidasi, kelompok usaha penerbangan BUMN diharapkan bisa menekan biaya perawatan pesawat, mengoptimalkan utilisasi armada, dan menyatukan jaringan rute.
"Ini bukan sekadar efisiensi, tapi bagaimana kita bisa menciptakan skala ekonomi yang lebih besar," ujar Dony dalam sebuah pernyataan di Jakarta, baru-baru ini.
Target: Pasar Domestik hingga ASEAN
Langkah ini juga menyasar target jangka panjang. Dony menargetkan dalam dua tahun ke depan, kelompok usaha yang nantinya terbentuk bisa menjadi pemain utama, bukan hanya di Indonesia tetapi juga di kawasan ASEAN.
Dengan menguasai pangsa pasar domestik yang lebih besar, kelompok usaha ini dinilai memiliki posisi tawar yang lebih kuat terhadap mitra bisnis, mulai dari pemasok bahan bakar hingga penyedia jasa perawatan pesawat. Saat ini, Garuda Indonesia dan anak usahanya, Citilink, sudah menguasai sebagian besar rute penerbangan di Tanah Air.
Dampak bagi Penumpang dan Industri
Konsolidasi ini diyakini akan berdampak langsung pada penumpang. Dengan jaringan rute yang terintegrasi, penumpang bisa menikmati lebih banyak pilihan penerbangan dan konektivitas antarkota yang lebih mulus. Biaya operasional yang lebih efisien juga berpotensi menekan harga tiket di masa mendatang.
Bagi industri penerbangan nasional, langkah ini menjadi sinyal bahwa BUMN serius memperkuat fundamental bisnis di tengah gempuran maskapai asing dan tantangan pemulihan pascapandemi. Pemerintah pun diharapkan terus memberikan dukungan regulasi agar proses konsolidasi berjalan lancar.