KALIMANTAN SELATAN — Pembalap berusia 19 tahun itu tengah dalam performa puncak setelah memenangi empat balapan beruntun. Namun, Nico Rosberg yang melewati persaingan sengit melawan Lewis Hamilton pada 2016 tahu betul bahwa masa sulit pasti datang. Bukan hanya soal kecepatan di lintasan, melainkan bagaimana seorang pembalap bangkit setelah kecelakaan, mesin jebol, atau kesalahan sendiri.
“Kimi sudah memikul beban seluruh Italia di pundaknya. Dia punya banyak penggemar karena karismatik dan autentik, tapi dia harus hati-hati,” ujar Rosberg kepada The Drive di sela Grand Prix Miami. “Dia benar-benar perlu mematikan semuanya dan fokus pada satu hal: membalap cepat dari satu pekan ke pekan berikutnya. Jangan pernah berpikir tentang kejuaraan.”
Mesin Distraksi: Netflix, Instagram, dan Sponsor yang Menggerogoti Fokus
Rosberg menyoroti bagaimana industri hiburan di F1—terutama serial Netflix dan media sosial—telah menjelma menjadi “mesin distraksi” yang ekstrem bagi pembalap. Menurutnya, apa yang tampak menarik bagi penonton justru menjadi beban tambahan bagi pengemudi yang hanya ingin membalap.
“Dari luar, semua itu keren. Tapi dari dalam, ini sangat berat. Ada mesin gila yang terus berputar di sekitar pembalap,” tambah juara dunia 2016 itu. Meski ia mengakui popularitas dan sponsor membayar gaji besar, Rosberg menegaskan tekanan komersial bisa membuat siapa pun gila jika tidak dikelola.
Langkah Konkret: Hapus Aplikasi, Jangan Baca Berita
Rosberg tidak hanya memberi nasihat umum. Ia memberikan langkah praktis yang ia terapkan sendiri saat merebut gelar juara dunia. “Langkah termudah adalah hapus Instagram dari ponsel. Matikan Twitter. Matikan semuanya. Jangan baca berita,” tegasnya.
Ia mengakui bahwa saat ini mungkin mudah bagi Antonelli karena terus menang. Namun, kekhawatiran justru muncul saat hasil buruk tiba. “Nanti akan ada pertanyaan dan keraguan: ‘Oh, mungkin dia terlalu muda,’ atau omong kosong lainnya. Sangat sulit tetap fokus, jadi penting untuk menjaga jarak dan mematikan sisi itu,” jelas Rosberg.
Perbandingan dengan Era Rosberg: Beban Lebih Berat di 2026
Rosberg mengakui bahwa menjadi juara di era media sosial saat ini jauh lebih sulit dibanding saat ia pensiun pada 2016. “Saat itu saya sudah mematikan semuanya—tidak ada media sosial, tidak ada berita, tidak ada surel. Saya benar-benar terkunci. Itu yang saya rekomendasikan pada Kimi,” ujarnya.
Meski demikian, Rosberg optimistis Antonelli bisa menjadi juara termuda sepanjang sejarah F1. Namun, ia menekankan bahwa Mercedes harus mengizinkan pembalapnya untuk mengurangi kewajiban media. “Itu mungkin dilakukan. Pengaruhi lingkungan sekitar,” pungkasnya.