Pencarian

Guru Besar UI Soroti Dampak Ekonomi Konser Andrea Bocelli di Jakarta dan Borobudur

Jumat, 30 Oktober 2026 • 18:38:01 WIB
Guru Besar UI Soroti Dampak Ekonomi Konser Andrea Bocelli di Jakarta dan Borobudur
Guru Besar FEB UI Prof Rhenald Kasali menyoroti dampak ekonomi konser Andrea Bocelli di Jakarta dan Borobudur.

KALIMANTAN SELATAN — Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Prof Rhenald Kasali menyoroti dampak ekonomi konser Andrea Bocelli yang digelar di Jakarta dan Candi Borobudur, Magelang. Lewat pernyataan yang diunggah Jumat (30/10/2026), Rhenald menyebut konser bertaraf internasional memberi efek multiplier hingga Rp 450-600 miliar. Ia pun menilai gelaran tersebut layak diapresiasi, meski tetap harus membuka ruang bagi masukan dan penolakan publik.

Rhenald Kasali menilai konser musisi internasional bukan sekadar tontonan, melainkan mesin ekonomi yang menggerakkan banyak sektor. Menurut dia, penonton yang datang bukan hanya dari dalam negeri, tapi juga mancanegara, dan mereka menyebarkan pengalaman itu ke dunia internasional.

"Kafenya bagaimana, transportasinya bagaimana, masyarakat, para pedagangnya, semua kebagian dapat cerita di dunia internasional," ujar Rhenald seperti dikutip dari akun resminya, Jumat (30/10/2026).

Efek Multiplier Rp 450-600 Miliar

Akademisi UI itu menyebut konser-konser besar di Indonesia menghasilkan efek pelipatgandaan ekonomi dengan nilai antara Rp 450 sampai Rp 600 miliar. Angka itu, kata dia, bukan hasil hitungan kecil bagi perekonomian daerah.

"Nilai antara Rp 450 sampai Rp 600 miliar. Luar biasa, ya. Kita apresiasi upaya pemda DKI yang mengangkat ini, juga pihak lain yang terlibat," kata Rhenald.

Ia menjelaskan fenomena tersebut sebagai bagian dari experience economy. Penonton sebenarnya bisa menikmati pertunjukan lewat YouTube, tetapi tetap memilih hadir langsung untuk merasakan suasana.

"Padahal mereka semua ada di YouTube itu, tinggal kita nonton. Tapi orang pengin experience, pengin get the feeling, pengin involved," tambahnya.

Jakarta dan Borobudur Jadi Dua Panggung

Konser Andrea Bocelli dijadwalkan berlangsung di dua lokasi sekaligus, yakni Jakarta dan Candi Borobudur, Magelang, pada 31 Oktober. Rhenald menilai pemilihan lokasi bersejarah sebagai panggung pertunjukan sudah lazim di dunia internasional.

Ia mencontohkan praktik serupa di Italia dan Yunani, termasuk pertunjukan di kawasan Acropolis. Menurut dia, negara-negara tersebut memasarkan pariwisata dengan menjadikan situs bersejarah sebagai tempat pertunjukan.

"Di dunia ini sudah biasa itu. Dunia itu memasarkan pariwisatanya dengan menjadikan tempat-tempat pertunjukan yang bersejarah," kata Rhenald.

Kontroversi dan Nilai Sosial yang Menyertai

Rhenald mengakui konser Andrea Bocelli menuai kontroversi dan penolakan dari sejumlah pihak. Baginya, setiap masukan harus didengar sebagai bahan pertimbangan penyelenggara.

"Tokoh-tokoh seperti ini tentu bisa mendatangkan bahwa terjadi kontroversi, terjadi penolakan-penolakan itu memang harus didengar," ujarnya.

Ia menekankan pentingnya shared value, bukan hanya value, dalam penyelenggaraan acara sebesar itu. Panitia, menurut informasi yang ia terima, akan membagikan sepatu untuk anak-anak Palestina serta menyediakan lampion tempat penonton menaruh harapan.

"Panitia saya dengar juga akan membagikan sepatu untuk anak-anak Palestina, that is good. Lalu ada lampion dan orang bisa menaruh harapan-harapannya di sana," kata Rhenald.

Dampak bagi Pariwisata dan Penonton Mancanegara

Rhenald meyakini konser Andrea Bocelli mendatangkan dampak ekonomi positif bagi Indonesia. Ia menyoroti kehadiran penonton dari berbagai negara yang bisa mengapresiasi karya-karya besar bangsa Indonesia.

Donasi yang melibatkan penonton untuk Palestina disebutnya sebagai salah satu bentuk dampak sosial dari pertunjukan. Dengan begitu, kata dia, konser tidak berhenti pada hiburan semata.

"Inilah satu dampak ekonomi dari suatu pertunjukan bahwa memang ada yang harus kita dengarkan, tetapi juga harus kita lihat dampak ekonominya. Bukan hanya sekadar suatu pertunjukan lalu kemudian menghibur diri kita," imbuh Rhenald.

Bagi industri hiburan Indonesia, pernyataan Rhenald menegaskan bahwa konser musisi kelas dunia kini dibaca bukan cuma dari sisi tiket, tapi juga dari rantai ekonomi yang ditimbulkannya.

Follow kalselonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: news.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks