BANJARBARU — Tim dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin menggelar edukasi dan pelatihan pembuatan biskuit balita berbasis pangan lokal bagi kader Posyandu di Kelurahan Landasan Ulin Selatan, Kota Banjarbaru. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat itu menyasar peningkatan keterampilan kader dalam menyiapkan makanan tambahan untuk balita.
Bahan yang diperkenalkan bukan bahan pabrikan. Peserta dilatih mengolah tepung kacang hijau dan pasta ikan patin dengan perbandingan masing-masing 50 persen. Kacang hijau dipakai sebagai sumber protein nabati, sementara ikan patin memasok protein hewani.
Mengapa Kader Posyandu Jadi Sasaran Pelatihan
Kader Posyandu berada di garis depan pemantauan tumbuh kembang balita di tingkat RT dan RW. Keterampilan mengolah pangan lokal dinilai memberi mereka bekal praktis ketika mendampingi keluarga dengan anak berisiko gizi kurang.
Rangkaian kegiatan diawali penyuluhan soal pentingnya pemenuhan gizi balita, pemanfaatan pangan lokal, serta penerapan higiene dan sanitasi dalam pengolahan makanan. Setelah itu kader mengikuti demonstrasi dan praktik langsung, mulai dari persiapan bahan, pengadonan, pencetakan, hingga pemanggangan.
Kutipan: Keterampilan Diminta Tidak Berhenti di Pelatihan
Ketua Tim Pengabdian kepada Masyarakat Sajiman, SKM., M.Gizi, menyebut pelatihan itu sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat lewat bahan pangan lokal yang mudah diperoleh dan berpotensi dikembangkan menjadi produk makanan tambahan.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan pengetahuan sekaligus keterampilan praktis kepada kader Posyandu agar dapat memanfaatkan potensi pangan lokal menjadi produk olahan yang bernilai gizi," ujarnya.
Sajiman berharap keterampilan yang diperoleh tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi juga dapat diterapkan dan dikembangkan di lingkungan masyarakat.
Biskuit Belum Siap Diedarkan, Ini Tahapan yang Menunggu
Pengembangan biskuit berbahan kacang hijau dan ikan patin masih memerlukan tahapan lanjutan. Pengujian kandungan gizi, keamanan pangan, daya terima, dan daya simpan harus dilalui sebelum produk dikembangkan lebih luas.
Artinya, biskuit itu belum berada di tahap produksi massal maupun distribusi ke posyandu. Hasil pelatihan baru berupa keterampilan kader mengolah bahan lokal sesuai takaran yang diperkenalkan tim dosen.
Susunan Tim dan Mahasiswa yang Terlibat
Kegiatan ini dilaksanakan tim dosen Jurusan Gizi Poltekkes Kemenkes Banjarmasin yang diketuai Sajiman, bersama Zulfiana Dewi, SKM., MP., dan Rusmini Yanti, SKM., MS. Sebanyak lima mahasiswa Jurusan Gizi turut dilibatkan dalam pelatihan.
Bagi warga Landasan Ulin Selatan, hasil pelatihan ini bergantung pada penerapan di tingkat posyandu. Kader yang sudah menguasai teknik pengolahan bisa meneruskannya ke keluarga balita, sambil menunggu hasil uji gizi dan daya simpan dari tim akademik.