BANJARBARU — Aktivitas belajar mengajar di Kota Banjarbaru tetap berlangsung di tengah kepungan kabut asap yang disebabkan kebakaran hutan dan lahan. Para orang tua yang mengantar anaknya terlihat mengendarai kendaraan dengan kecepatan rendah, mengingat jarak pandang yang berkurang signifikan di sejumlah ruas jalan.
Langkah ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan terhadap potensi bahaya kecelakaan lalu lintas yang mengintai di tengah kondisi udara yang tidak sehat. Selain memperlambat kendaraan, penggunaan masker menjadi perlengkapan wajib bagi anak-anak sebelum meninggalkan rumah.
Masker dan Pelan-Pelan Jadi Kunci Keselamatan
Kesadaran akan risiko kesehatan dan keselamatan membuat para orang tua tidak main-main dalam melindungi buah hatinya. Mereka memastikan masker terpasang sempurna menutupi hidung dan mulut anak sebelum memulai perjalanan ke sekolah.
Di sisi lain, kecepatan kendaraan sengaja diturunkan di bawah batas normal. Jalanan yang biasanya ramai dilalui dengan kecepatan standar, kini harus ditempuh lebih hati-hati karena pandangan yang terbatas oleh tebalnya kabut asap.
Karhutla Landa Sejumlah Wilayah Indonesia
Fenomena kabut asap ini bukan hanya melanda Kalimantan Selatan. Kebakaran hutan dan lahan yang menghasilkan asap beracun terjadi di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Sumatera, Kalimantan, hingga Papua.
Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh manusia yang terganggu kesehatannya, tetapi juga mengancam kelestarian satwa yang dilindungi di habitat aslinya. Kondisi ini menjadi pengingat akan luasnya dampak karhutla terhadap lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya.
Waspada Dampak Kesehatan Jangka Pendek
Paparan kabut asap dalam durasi singkat saja sudah cukup untuk memicu iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Bagi anak-anak yang sistem imunnya masih berkembang, risiko gangguan pernapasan akut seperti ISPA menjadi lebih tinggi.
Oleh karena itu, pembatasan aktivitas di luar ruangan sangat disarankan. Jika terpaksa harus keluar rumah, memakai masker berkualitas baik adalah langkah minimal yang wajib dilakukan untuk meminimalkan masuknya partikel berbahaya ke dalam saluran pernapasan.
Pihak sekolah dan orang tua diharapkan terus berkomunikasi untuk memantau perkembangan kualitas udara di Banjarbaru. Keputusan untuk meliburkan siswa dapat diambil sewaktu-waktu jika kondisi dinilai sudah membahayakan kesehatan anak-anak.