Pencarian

Defisit Anggaran Rusia Membengkak, Perbankan Kehabisan Dana untuk Beli Obligasi Negara

Rabu, 05 Agustus 2026 • 10:39:01 WIB
Defisit Anggaran Rusia Membengkak, Perbankan Kehabisan Dana untuk Beli Obligasi Negara
Defisit anggaran Rusia mencapai 5,7 triliun rubel pada semester I-2026 akibat belanja pertahanan yang membengkak.

KALIMANTAN SELATAN — Tekanan likuiditas yang dialami perbankan Rusia berpotensi mempersulit Kementerian Keuangan dalam menerbitkan obligasi OFZ untuk menutup defisit. Bank-bank kini cenderung menahan diri membeli surat utang negara karena harus memprioritaskan penyaluran kredit ke nasabah.

Vice President sekaligus Chief Financial Officer Sberbank, Taras Skvortsov, mengungkapkan sejak awal tahun telah terjadi penarikan dana tunai dari sistem perbankan sekitar 2 triliun rubel atau setara US$ 25,2 miliar. Kondisi tersebut membuat likuiditas perbankan semakin ketat.

"Saat ini, bank hanya memiliki dana yang cukup untuk dipinjamkan kepada nasabah. Itulah bisnis inti mereka," kata Skvortsov kepada Reuters. "Anda dapat membeli obligasi OFZ, terutama tanpa premi yang signifikan, ketika Anda memiliki likuiditas berlebih dan yakin bahwa likuiditas tersebut akan tetap tersedia. Saat ini, situasinya justru sebaliknya."

Belanja Perang Melampaui Anggaran hingga Rp 800 Triliun

Berdasarkan laporan Bloomberg, anggaran federal Rusia mencatat defisit sebesar 5,7 triliun rubel (US$ 71,82 miliar) pada semester I-2026. Pengeluaran pertahanan yang lebih tinggi dari rencana awal menjadi pemicu utama membengkaknya defisit tersebut.

Estimasi menunjukkan pengeluaran perang Rusia dapat melampaui anggaran tahun ini sebesar 4 triliun hingga 5 triliun rubel (setara US$ 50,4 miliar hingga US$ 63 miliar). Alhasil, Kementerian Keuangan diperkirakan perlu menghimpun tambahan pinjaman sebesar 2 triliun hingga 3 triliun rubel (US$ 25,2 miliar hingga US$ 37,8 miliar) di luar rencana.

Padahal, dalam rencana anggaran 2026, pemerintah semula hanya menargetkan pinjaman domestik sebesar 4,4 triliun rubel atau sekitar US$ 55,44 miliar.

Lelang Obligasi Dihentikan, Bank Catat Kerugian Rp 40 Triliun

Kementerian Keuangan Rusia telah menangguhkan lelang obligasi pemerintah pada Juli setelah harga OFZ turun dan imbal hasilnya naik. Pelemahan harga tersebut memicu kerugian nilai pasar sekitar 200 miliar rubel (US$ 2,52 miliar) bagi bank-bank yang memegang surat utang tersebut.

Skvortsov menambahkan, tanpa likuiditas berlebih dan kepastian ketersediaan dana, bank tidak akan bersedia membeli OFZ tanpa premi yang signifikan. Hal ini menjadi dilema bagi pemerintah yang membutuhkan suntikan dana besar untuk membiayai operasional perang.

Kondisi ini menunjukkan tekanan ganda yang dihadapi Rusia: di satu sisi defisit fiskal membengkak, di sisi lain sektor perbankan yang menjadi pembeli utama obligasi pemerintah justru mengalami kekeringan likuiditas. Jika berlanjut, pemerintah Rusia terpaksa mencari sumber pembiayaan alternatif atau mengurangi belanja negara.

Follow kalselonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: finance.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks