BANJARBARU — Sebanyak 100 lebih atlet dari kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan mengikuti Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kalsel. Agenda yang mempertandingkan para atletik dan para panahan ini berlangsung di Kantor Sekretariat NPCI Kalsel, Banjarbaru, Jumat (4/9/2026).
Kejuaraan ini dirancang sebagai instrumen evaluasi atas program pembinaan atlet disabilitas yang telah berjalan, sekaligus ajang seleksi untuk regenerasi atlet menuju level yang lebih tinggi.
Dua Cabor Andalan Kalsel untuk Lumbung Medali Nasional
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kalsel, Pebriadin Hapiz, menegaskan bahwa para atletik dan para panahan bukan sekadar ajang kompetisi biasa. Kedua cabang ini diproyeksikan sebagai pemasok medali utama bagi kontingen Kalsel di kancah nasional.
“Kita mencoba untuk memaksimalkan pembinaan pada nomor-nomor unggulan untuk kemudian dievaluasi. Harapannya, ketika berada di level nasional, kita bisa kembali memetik hasil dari pembinaan yang selama ini dilakukan,” ujarnya di sela-sela pembukaan kegiatan.
Meski fokus pada dua cabor, Pebriadin memastikan pembinaan untuk cabang olahraga lainnya tetap berjalan. Namun, intensifikasi dan penganggaran diprioritaskan pada nomor yang memiliki peluang prestasi lebih besar.
Perketat Seleksi: Atlet yang Stagnan Bisa Tergusur
Ketua Umum NPCI Kalsel, Sumansyah, menjelaskan bahwa Kejurprov kali ini mempertandingkan total 18 nomor. Rinciannya, 14 nomor untuk tolak lempar dalam para atletik dan empat nomor untuk para panahan.
Hasil performa atlet di kejuaraan ini tidak hanya menjadi catatan prestasi, tetapi juga penentu nasib mereka dalam program pembinaan 2027. Jika seorang atlet yang telah dilatih selama sembilan bulan tidak menunjukkan progres, posisinya terancam digantikan oleh pendatang baru dari daerah.
“Bisa saja atlet yang sudah dibina dan dilatih selama sembilan bulan ternyata tidak mengalami kemajuan. Kemudian ada atlet dari kabupaten atau kota yang mampu melebihi limitnya, sehingga berpotensi menggantikan atlet yang sebelumnya masuk program pembinaan pada 2027,” tegas Sumansyah.
Dispora Dorong Sport Science untuk Atlet Kalsel
Menghadapi persaingan yang kian kompetitif di tingkat regional maupun nasional, Dispora Kalsel tidak hanya mengandalkan intensitas latihan. Pebriadin menambahkan, ke depan pembinaan atlet disabilitas akan mulai diintegrasikan dengan pendekatan sport science.
Langkah ini dinilai penting agar proses peningkatan performa atlet lebih terukur dan berbasis data, tidak hanya mengandalkan insting pelatih. Hal ini menjadi jawaban atas dinamika persaingan olahraga disabilitas di daerah lain yang juga berkembang pesat.
“Nomor-nomor lain tetap kita lakukan pembinaan. Namun, untuk saat ini kita fokus pada nomor-nomor unggulan. Ke depan, nomor-nomor potensial juga akan kita kompetisikan sehingga menambah semangat atlet untuk lebih giat berlatih,” jelas Pebriadin.
Pesan Ketua NPCI ke Pengurus Kabupaten/Kota
Sumansyah mengingatkan bahwa pembinaan atlet tidak bisa hanya dilakukan di tingkat provinsi. Dukungan penuh dari pengurus NPCI kabupaten/kota sangat dibutuhkan, terutama dalam menyediakan program latihan rutin di daerah masing-masing.
“Kami mengimbau kepada seluruh ketua NPCI kabupaten/kota untuk memberikan yang terbaik kepada anggota maupun atletnya, memberikan latihan di masing-masing kabupaten/kota dan tetap menjaga solidaritas dalam NPCI,” pungkasnya.