KALIMANTAN SELATAN — Gugatan diajukan oleh Ticombo, platform jual-beli tiket online asal Jerman. Dalam berkas pengadilan, Ticombo menuduh FIFA secara sistematis menyembunyikan identitas penjual untuk memungkinkan entitas komersial menjual tiket dengan harga yang melambung tinggi.
Injungsi ini hanya berlaku di wilayah Jerman dan diprediksi tidak berdampak langsung pada operasional FIFA di Piala Dunia saat ini. FIFA tidak hadir dalam sidang di Frankfurt. Ticombo kini berencana membawa kasus ini ke pengadilan Swiss, yang diperkirakan memakan waktu lebih lama.
Komisi 15 Persen untuk Pembeli dan Penjual, FIFA Raup Untung Besar
Berbeda dengan Inggris yang melarang penjualan tiket dengan mengambil untung, Amerika Serikat melegalkannya. FIFA memanfaatkan celah ini dengan memungut komisi 15 persen dari penjual dan pembeli di pasar tiket sekunder resmi. Artinya, FIFA mendapat untung tiga kali lipat dari satu tiket yang diperjualbelikan.
Akibatnya, harga tiket di pasar sekunder meroket hingga puluhan ribu poundsterling. Keluhan terus berdatangan, terutama soal ketidakjelasan siapa penjual tiket dan lokasi kursi di stadion.
Jebakan Harga dan Hitung Mundur Enam Menit: Modus yang Diprotes
Ticombo mengungkap sejumlah praktik yang disebutnya sebagai "fitur desain manipulatif" di platform penjualan menit terakhir FIFA. Pertama, bait-and-switch pricing—harga awal tampak murah, lalu naik drastis saat checkout.
Kedua, tenggat waktu agresif. Pembeli hanya diberi waktu enam menit untuk menyelesaikan pembelian. Jika tidak, mereka terkunci dari sistem. Ketiga, fitur "book the best seat" secara otomatis memilih kursi termahal tanpa memberi pilihan kepada konsumen. Keempat, harga tiket per kursi baru ditampilkan setelah konsumen menyelesaikan seleksi.
Jaksa Agung New York dan New Jersey Ikut Usut
Pada Mei lalu, jaksa agung New York dan New Jersey membuka penyelidikan terhadap penjualan tiket FIFA di Stadion MetLife, venue final Piala Dunia. Langkah ini dipicu oleh keluhan suporter yang mengaku disesatkan soal lokasi kursi mereka.
"Tidak seorang pun boleh dimanipulasi untuk membayar harga selangit demi sebuah kursi," kata Jaksa Agung New York, Letitia James, dalam pernyataan resmi. "Penggemar harus bisa percaya bahwa tiket yang mereka beli sesuai dengan yang mereka terima."
Terlambat untuk Piala Dunia 2026, Tapi Jadi Tekanan untuk 2030
Ticombo mengakui injungsi ini datang terlambat untuk membuat perubahan berarti di Piala Dunia tahun ini. Namun, mereka berharap tekanan ini bisa mengubah praktik FIFA sebelum Piala Dunia 2030 yang mayoritas digelar di Spanyol dan Portugal.
"Injungsi bersejarah ini adalah langkah penting bagi kepentingan hukum dan publik para penggemar sepak bola," kata juru bicara Ticombo. "Kami memulai tindakan hukum ini untuk menegaskan bahwa transparansi, keadilan, dan hak konsumen harus menjadi standar utama di industri tiket, termasuk untuk ajang olahraga terbesar di dunia."
Hingga berita ini diturunkan, FIFA belum memberikan tanggapan resmi terkait putusan pengadilan Frankfurt.