BANJARMASIN — Paparan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Selatan mendorong pemantauan kesehatan pelajar diperketat. Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang menyasar siswa sekolah kini digencarkan di tengah meningkatnya kasus ISPA di kota ini.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Banjarmasin mencatat tren kenaikan kasus ISPA yang signifikan dalam dua bulan terakhir. Pada Juni 2026, tercatat 6.432 kasus, kemudian melonjak menjadi 6.841 kasus pada Juli 2026 atau bertambah 409 kasus hanya dalam satu bulan. Adapun data untuk Agustus masih dalam proses rekapitulasi.
Angka ISPA di Banjarmasin Tertinggi di Kalsel
Banjarmasin disebut menjadi salah satu wilayah dengan catatan kasus ISPA tertinggi di Kalimantan Selatan. Kondisi ini sejalan dengan memburuknya kualitas udara yang dipicu kabut asap kiriman dari karhutla.
Pelaksanaan CKG di tingkat sekolah pun diarahkan untuk menjaring siswa yang menunjukkan indikasi ISPA. Pemeriksaan dilakukan secara intensif dan berkelanjutan sebagai bagian dari pemantauan kondisi kesehatan anak di masa krisis lingkungan.
Sekolah Jadi Garda Depan Deteksi Dini ISPA
Di SMPN 1 Banjarmasin, agenda pemeriksaan kesehatan gratis menyasar langsung deteksi dini gangguan pernapasan pada murid. Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMPN 1 Banjarmasin, Nurul Herliani, menilai program ini menjadi momentum penting untuk memantau kondisi kesehatan siswa di tengah kabut asap.
“Program ini menjadi momentum penting untuk memantau kondisi kesehatan siswa di tengah kabut asap,” ujarnya.
Warga Mulai Perketat Perlindungan Diri
Dampak kabut asap tidak hanya dirasakan di lingkungan sekolah, tetapi juga di rumah-rumah warga. Keyla, salah seorang siswa, mengaku paparan kabut asap mulai memengaruhi kondisi kesehatan keluarganya.
Ia bersama keluarga kini memperketat perlindungan diri dengan rutin memakai masker setiap kali beraktivitas di luar rumah. Langkah serupa dinilai perlu diterapkan lebih luas seiring kualitas udara yang belum menunjukkan perbaikan signifikan.