KALIMANTAN SELATAN — Direktur Utama PHE, Awang Lazuardi, mengungkapkan bahwa beberapa hari setelah konflik bersenjata meletus, pemerintah Irak langsung mengambil langkah tegas. Pemerintah setempat memerintahkan penghentian seluruh aktivitas di lapangan minyak yang dikelola oleh perusahaan asing, termasuk kontraktor asal Indonesia itu.
"Kami kehilangan produksi sekitar 100.000 barel per hari dari West Qurna," ujar Awang dalam pernyataannya di Jakarta, Selasa (2/6). Ia menambahkan bahwa situasi keamanan yang tidak menentu menjadi alasan utama penghentian operasi.
West Qurna merupakan salah satu ladang minyak raksasa di Irak selatan. Sejak dikelola oleh Pertamina, lapangan ini menjadi penyumbang signifikan bagi target produksi hulu perusahaan. Namun, ketegangan geopolitik yang memuncak antara Iran dan AS kini memutus aliran minyak dari sana.
Dampak ke Target Produksi Nasional
Hilangnya 100.000 barel per hari bukan angka yang kecil. Bagi Pertamina, ini berarti tekanan besar pada target produksi minyak nasional yang selama ini digenjot. Sebelum konflik, PHE tengah berupaya meningkatkan volume produksi dari aset-aset luar negerinya untuk menopang kebutuhan energi dalam negeri.
Awang belum merinci berapa lama operasi akan lumpuh atau langkah evakuasi yang telah dilakukan terhadap pekerja Indonesia di lokasi. Yang jelas, penghentian ini terjadi di tengah upaya global menstabilkan harga minyak yang sempat bergejolak pasca pecahnya perang.
Pertamina melalui subholding upstream-nya sejatinya memiliki portofolio blok migas di berbagai negara. Irak, dengan cadangan minyaknya yang melimpah, menjadi salah satu andalan. Kini, andalan itu untuk sementara waktu harus diistirahatkan.
Konflik Geopolitik Mengubah Peta Energi
Perang Iran-AS tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga langsung menusuk rantai pasok energi global. Bagi Pertamina, insiden ini menjadi pengingat keras akan kerentanan aset di luar negeri saat konflik regional pecah.
Belum ada kepastian kapan produksi di West Qurna bisa kembali normal. Semua bergantung pada situasi keamanan di Irak dan keputusan pemerintah setempat. Sementara itu, Pertamina harus mencari cara untuk menambal lubang produksi yang menganga akibat perang ini.