Pencarian

Atasi Banjir Pertanian, Pemkab HSU Lelang Proyek Sodetan Rp 10 Miliar

Rabu, 06 Mei 2026 • 13:59:01 WIB
Atasi Banjir Pertanian, Pemkab HSU Lelang Proyek Sodetan Rp 10 Miliar
Pembangunan sodetan sepanjang 20 kilometer di HSU direncanakan untuk mengatasi banjir pertanian.

AMUNTAI — Pemerintah Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) tengah mematangkan rencana pembangunan sodetan besar untuk mengatasi persoalan banjir yang kronis. Proyek senilai Rp 10 miliar ini ditargetkan menjadi solusi jangka panjang bagi petani di kawasan rawa yang kerap merugi akibat luapan Sungai Tabalong.

Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) PUPR HSU, Sahabudin Noor, menjelaskan bahwa pembangunan sodetan ini merupakan langkah strategis dalam mengendalikan debit air. Saat ini, tim teknis sedang melengkapi dokumen perencanaan agar proses tender bisa segera dilaksanakan.

“Perencanaan sedang kami lengkapi. Setelah itu akan masuk proses lelang,” ujar Sahabudin pada Rabu (6/5/2026).

Spesifikasi Teknis: Jalur 20 Kilometer Melintasi Tiga Desa

Proyek infrastruktur air ini memiliki dimensi yang cukup masif untuk ukuran daerah. Sodetan akan membentang sepanjang 20 kilometer dengan lebar mencapai 20 meter dan kedalaman 2,5 meter. Jalur aliran air buatan ini diproyeksikan membelah kawasan dari hulu ke hilir.

Titik awal pembangunan dimulai dari Desa Hapalah, yang merupakan perbatasan dengan Kabupaten Tabalong. Aliran air kemudian akan diarahkan menuju hilir di Sambujur, Desa Tampakang, Kecamatan Paminggir. Dalam pengerjaannya, proyek ini akan melintasi tiga wilayah utama, yakni:

  • Desa Hapalah
  • Desa Tuhuran
  • Desa Kayakah

Keberadaan sodetan ini diharapkan mampu mempercepat drainase air dari kawasan rawa menuju sungai utama, sehingga durasi genangan di lahan produktif warga bisa dipersingkat secara signifikan.

Mengapa Petani HSU Sering Gagal Panen?

Selama bertahun-tahun, luapan Sungai Tabalong menjadi momok bagi produktivitas pangan di HSU. Karakteristik lahan rawa yang rendah membuat air tertahan lama dengan ketinggian lebih dari satu meter. Akibatnya, siklus tanam masyarakat terganggu dan petani hanya mampu melakukan satu kali masa tanam dalam setahun.

Rudi, seorang petani asal Desa Tuhuran, menceritakan bagaimana warga harus berkejaran dengan waktu setiap kali musim penghujan tiba. Seringkali, jerih payah mereka hilang seketika karena air naik sebelum masa panen tiba.

“Rata-rata kebanyakan petani belum sempat panen, air sudah naik. Terpaksa panen dalam kondisi tergenang,” kata Rudi.

Menurutnya, sodetan adalah harapan baru agar air memiliki jalur pembuangan yang jelas. "Air itu tidak bisa dilawan, kalau diarahkan, air bisa mengalir, sehingga petani punya waktu cukup dari masa tanam hingga panen. Saat ini air mencari celahnya sendiri, lantaran alurnya tidak ada," lanjutnya.

Target 2026 dan Optimisme Peningkatan Ekonomi

Pemerintah daerah optimis proyek ini akan memberikan efek domino pada ekonomi lokal. Selain mengurangi risiko bencana, sodetan ini diprediksi mampu meningkatkan indeks pertanaman (IP). Dengan kendali air yang lebih baik, lahan rawa yang sebelumnya tidak produktif dapat dioptimalkan menjadi sawah yang bisa dipanen lebih dari sekali.

Langkah ini juga merujuk pada keberhasilan program normalisasi sungai di Desa Muara Tapus sebelumnya. Pemkab HSU melihat pola normalisasi dan pembuatan sodetan terbukti efektif meningkatkan kapasitas tampung air dan mempercepat penyusutan genangan di pemukiman maupun lahan tani.

Jika proses lelang berjalan sesuai jadwal pada 2026, pengerjaan fisik akan segera dimulai. Pemkab HSU memastikan proses ini melibatkan aparat desa dan masyarakat setempat agar titik pembangunan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan teknis di lapangan.

Bagikan
Sumber: cakrawalainews.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks