BANJAR — Wakil Ketua Dewan Adat Dayak (DAD) sekaligus Ketua Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) Kabupaten Banjar Badarudin menilai peralihan musim menuntut warga tidak lengah. Ancaman karhutla yang mulai surut, menurutnya, bukan alasan menurunkan kewaspadaan terhadap banjir dan cuaca ekstrem.
Peringatan disampaikan di tengah meningkatnya potensi curah hujan pada November hingga Desember 2026. Sejumlah kawasan di Kabupaten Banjar dinilai rawan karena kondisi geografisnya.
Mengapa Kabupaten Banjar Rawan Banjir?
Kabupaten Banjar memiliki kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi. Aliran sungai, curah hujan di kawasan hulu Pegunungan Meratus, dan pasang air laut memperbesar potensi banjir di dataran rendah serta permukiman bantaran sungai.
Pengalaman awal 2026 menjadi rujukan. Sebanyak 32.789 rumah di 12 kecamatan dilaporkan terdampak genangan. Bencana itu tidak hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan mobilitas masyarakat.
Informasi Cepat Jadi Kunci Penyelamatan
Badarudin menekankan pentingnya komunikasi kebencanaan yang cepat dan akurat. Warga perlu mengetahui perkembangan situasi, mengenali potensi bahaya, dan mengambil langkah penyelamatan sebelum air masuk ke rumah.
"Informasi harus sampai kepada masyarakat dengan cepat dan jelas. Warga perlu mengetahui kondisi di lingkungannya, terutama yang tinggal di kawasan rawan banjir. Jangan sampai masyarakat baru mencari informasi ketika air sudah masuk ke rumah," ujarnya.
Koordinasi lintas pihak dinilai menentukan. Pemerintah daerah, BPBD, aparat desa, relawan, dan unsur masyarakat perlu menyampaikan informasi cuaca, kenaikan muka air, jalur evakuasi, hingga kebutuhan warga terdampak secara efektif.
Jaga Hutan Meratus hingga Kebersihan Sungai
Dari kapasitasnya di Dewan Adat Dayak, Badarudin menyoroti kelestarian lingkungan sebagai bagian pengurangan risiko bencana. Kawasan hutan di Pegunungan Meratus berperan menjaga fungsi lingkungan dan tata air.
Perlindungan tutupan lahan dan pencegahan aktivitas merusak lingkungan disebutnya perlu menjadi perhatian bersama. Warga juga diminta tidak membuang sampah ke sungai dan tidak membuka lahan dengan cara membakar.
"Menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga seluruh masyarakat. Hal sederhana seperti tidak membuang sampah ke sungai, menjaga kawasan hutan, dan tidak membuka lahan dengan cara membakar merupakan bentuk kepedulian yang dapat kita lakukan bersama," katanya.
Karhutla di Lahan Gambut Masih Perlu Diwaspadai
Meski hujan diharapkan menekan risiko karhutla, kewaspadaan di kawasan lahan gambut tetap diperlukan. Lapisan tertentu pada gambut masih berpotensi kering, terutama di wilayah rawan aktivitas pembakaran lahan.
Pemantauan kondisi lingkungan dan pelaporan dini saat ditemukan titik api menjadi langkah pencegahan yang dinilai penting. Kesadaran warga untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar tetap menjadi kunci.
Persiapan yang Bisa Dilakukan Warga Sebelum Hujan Puncak
Warga di kawasan rawan banjir diimbau mulai bersiap sejak sekarang. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah menjaga kebersihan saluran air agar tidak tersumbat.
Dokumen penting sebaiknya diamankan di tempat yang aman dari jangkauan air. Kebutuhan darurat perlu disiapkan, dan setiap anggota keluarga mengetahui jalur evakuasi menuju lokasi yang lebih tinggi.
"Pergantian musim ini harus menjadi perhatian bersama. Ketika hujan mulai turun, kita tentu berharap ancaman karhutla berkurang. Namun, di sisi lain masyarakat juga perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap banjir dan cuaca ekstrem. Jangan sampai kita lengah karena merasa satu ancaman sudah mulai berkurang," ujar Badarudin.