BANJARBARU — Kualitas udara di Kalimantan Selatan sempat masuk kategori berbahaya pada Rabu (2/9/2026) pagi. BMKG Stasiun Klimatologi (Staklim) Kalsel mencatat kadar PM2.5 berada di atas 250,5 mikrogram per meter kubik sejak pukul 03.00 Wita hingga 09.00 Wita.
Kondisi itu berubah drastis pada Kamis (3/9/2026). Berdasarkan pantauan BMKG, kualitas udara di Kalsel kembali ke kategori sedang setelah sebelumnya sempat berada di level yang mengancam kesehatan.
Selasa Sedang, Rabu Berbahaya, Kamis Kembali Pulih
Prakirawan BMKG Staklim Kalsel, Made Anggun Dwitami, mengatakan fluktuasi kualitas udara terjadi dalam tiga hari pertama September. Selasa (1/9/2026) masih kategori sedang, namun sehari kemudian angka PM2.5 melonjak tajam.
“Ini kategori berbahaya berarti kondisi PM2.5-nya itu berada di angka lebih dari 250,5 mikrogram per meter kubik. Tanggal 2 September itu dari pukul 03.00 Wita hingga 09.00 Wita,” jelas Made saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (3/9/2026).
Setelah pukul 09.00 Wita, konsentrasi partikel halus berangsur turun. Hingga Kamis siang, kualitas udara di Kalsel sudah berada di level sedang, tidak lagi mengganggu aktivitas warga.
Mengapa Pagi Hari Paling Rawan?
Made menerangkan bahwa lonjakan polusi hampir selalu terjadi pada rentang pukul 02.00 Wita hingga 09.00 Wita. Penyebabnya bukan peningkatan emisi, melainkan kondisi atmosfer yang menjebak polutan di dekat permukaan.
“Karena pada saat itu biasanya suhunya di permukaan dingin, itu akan memerangkap polutan di permukaan bumi,” tuturnya.
Fenomena ini kerap muncul saat musim kemarau, terutama ketika wilayah Kalsel mulai terpengaruh kabut asap dari titik panas di sekitarnya.
Lindungi Diri: Masker KN95 dan Imunitas
Menghadapi kondisi yang masih fluktuatif, BMKG mengingatkan warga yang terpaksa beraktivitas di luar ruangan untuk memakai masker jenis KN95. Masker ini dinilai lebih efektif menyaring partikel halus dibanding masker bedah biasa.
“Kemudian juga untuk menjaga imunitas tubuh agar tetap waspada terhadap terjadinya kabut asap,” kata Made.
BMKG meminta kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan membatasi aktivitas di luar ruangan pada pagi hari. Jika muncul gejala ISPA seperti batuk berdahak atau sesak napas, warga disarankan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.