BANJARMASIN — Rencana akuisisi mayoritas saham emiten batu bara kelas kakap ini mencuat setelah Haji Isam, pemilik Jhonlin Group, melakukan peninjauan lapangan bersama di area operasional tambang PT Bayan Resources di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Pertemuan itu dihadiri langsung oleh Dato’ Low Tuck Kwong selaku pemegang saham pengendali BYAN dan Norman Joesoef pemilik Republik Korpora Indonesia (RKI) atau Republikorp.
Agenda yang digelar Sabtu (15/8/2026) itu tidak sekadar memantau kondisi tambang. Jajaran direksi dari ketiga perusahaan turut membahas teknis konsolidasi aset dan penyelarasan strategi bisnis menjelang eksekusi transaksi.
Sinergi Tiga Kekuatan: Tambang Raksasa, Infrastruktur, dan Armada Laut
Masuknya Jhonlin Group ke BYAN disebut akan mengubah peta persaingan industri pertambangan nasional. Bayan Resources selama ini memegang predikat sebagai produsen batu bara thermal terintegrasi dengan biaya operasional paling efisien, ditopang tambang utama di Tabang, Kutai Kartanegara.
BYAN menguasai rantai pasok penuh dari hulu ke hilir. Mulai dari konsesi tambang, jalan angkut khusus (hauling road), fasilitas pengolahan, hingga jaringan pelabuhan laut dalam Balikpapan Coal Terminal dan sarana transshipment.
Kekuatan produksi itu bakal dilengkapi kehadiran RKI di bawah komando Norman Joesoef. RKI dikenal sebagai pemain kawakan jasa logistik energi terpadu yang menyokong armada kapal tunda (tugboat), tongkang (barge), hingga pengelolaan pelabuhan muat perairan pedalaman.
Potensi Efisiensi Biaya dan Kewajiban Tender Wajib
Kombinasi kapasitas produksi jumbo Bayan Resources, kekuatan infrastruktur pertambangan Jhonlin Group, serta keunggulan armada maritim RKI diyakini menciptakan efisiensi biaya operasional yang masif. Konsolidasi ini tak hanya memperkuat posisi tawar ekspor energi Indonesia di panggung global, tetapi juga menjadi pemantik utama pergerakan saham BYAN di bursa.
Manajemen Jhonlin Group maupun BYAN belum mengumumkan detail nilai akuisisi dan porsi saham yang bakal diambil alih. Namun yang jelas, Jhonlin Group akan mengambil porsi mayoritas.
Apabila rencana pembelian saham mayoritas ini terekesekusi, Jhonlin Group berkewajiban menggelar penawaran tender wajib (mandatory tender offer) sesuai regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).
Harga Saham BYAN Melonjak 20 Persen
Sentimen positif menyelimuti perdagangan saham BYAN. Pada penutupan perdagangan Jumat (14/8/2026), harga saham BYAN naik 20 persen menjadi Rp14.400 per lembar. Kapitalisasi pasar BYAN ikut terdongkrak menjadi Rp480 triliun.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi dari Jhonlin Group maupun pihak Bayan Resources terkait jadwal dan struktur transaksi akuisisi tersebut.