Pencarian

Andres Escobar Ditembak 6 Kali Seminggu Setelah Gol Bunuh Diri di Piala Dunia 1994, Begini Dampaknya bagi Kolombia

Minggu, 02 Agustus 2026 • 22:33:01 WIB
Andres Escobar Ditembak 6 Kali Seminggu Setelah Gol Bunuh Diri di Piala Dunia 1994, Begini Dampaknya bagi Kolombia
Andres Escobar ditembak enam kali di sebuah tempat parkir di Medellin, Kolombia, setelah terlibat cekcok terkait gol bunuh diri di Piala Dunia 1994.

KALIMANTAN SELATAN — Peristiwa berdarah itu terjadi di sebuah tempat parkir di Medellin, Kolombia, sekitar pukul 3 pagi waktu setempat. Escobar yang baru saja keluar dari diskotek Padua bersama temannya, Juan Galeano, terlibat cekcok dengan sekelompok pria yang mengejeknya dengan teriakan "gol bunuh diri". Pertengkaran itu berujung fatal ketika Humberto Munoz Castro, pengawal kelompok tersebut, melepaskan tembakan dari jarak dekat ke arah mobil Escobar. Satu peluru menembus jantungnya.

Provokasi Berujung Maut di Parkiran Diskotek

Malam itu, Escobar sebenarnya hanya ingin mencari hot dog setelah minum aguardiente di diskotek Padua. Namun, sekelompok pria yang dikenal sebagai mafia Medellin, termasuk kakak beradik Gallon, terus memprovokasi pemain berusia 27 tahun itu. "Kamu mencetak gol bunuh diri yang indah," teriak salah satu dari mereka, disusul ejekan lain: "Berapa mereka membayarmu untuk mencetak gol itu?"

Escobar sempat membalas dengan makian dan menolak memindahkan mobilnya. Saat ia duduk di kursi pengemudi, Castro mendekat, berteriak, lalu menembak enam kali tanpa ampun. Polisi kemudian menyelidiki dua teori: pembunuhan terencana terkait taruhan judi atau sekadar insiden kriminal biasa di kota yang malam itu mencatat 36 pembunuhan lainnya.

120.000 Orang Mengantar Ke Liang Lahat

Kematian Escobar memicu duka nasional. Lebih dari 120.000 orang mengiringi jenazahnya ke pemakaman Campos de Paz. Rekan setim dan pelatih timnas Kolombia justru dilarang hadir karena polisi khawatir terjadi ledakan kekerasan baru. Sementara itu, para pemain yang sempat bertahan di AS untuk liburan memilih pulang lebih cepat setelah mendengar kabar duka tersebut.

Humberto Munoz Castro dijatuhi hukuman 43 tahun penjara karena pembunuhan, sementara kakak beradik Gallon masing-masing dipenjara 15 bulan karena provokasi. Dari balik sel di penjara Itagui, Castro tetap bersikukuh bahwa ia tidak tahu siapa yang ia tembak malam itu.

Duka yang Mengubah Hidup Orang-Orang di Sekitarnya

Bagi Elisa Tamayo, penggemar Atletico Nacional yang baru berusia tujuh tahun saat itu, pagi pembunuhan Escobar adalah pagi yang sunyi. "Saya sedang sarapan dengan orang tua dan adik perempuan saya ketika mendengar di radio bahwa Andres telah dibunuh. Semua orang diam sepanjang pagi," kenangnya. Malam harinya, ayahnya mengajaknya memberi penghormatan terakhir di Coliseo Ivan de Bedout. "Saya masih merinding ketika kami meneriakkan namanya sebelum pertandingan," tambahnya.

Lina Gomez, warga Calasanz yang mengenal keluarga Escobar, mengaku berhenti menonton sepak bola setelah kejadian itu. "Mengapa pemain yang cerdas dan berdedikasi seperti Andres? Jika Rene Higuita tertembak besok, saya tidak akan kaget, dia bergaul dengan orang yang salah. Tapi Andres Escobar? Sejak kematiannya, saya tidak pernah kembali ke stadion lagi," ujarnya.

Warisan 'Calidad' yang Abadi di Medellin

Di Medellin, nama Escobar tetap hidup. Patungnya didirikan di dekat stadion, dan setiap pertandingan Atletico Nacional, nyanyian namanya menggema seperti doa di tengah riuh sorak. Julukannya, "Calidad" (Kualitas), melekat karena fair play dan kecerdasannya di lapangan. Rekan duetnya di lini belakang, Victor Marulanda, mengenang Escobar sebagai pemain yang menunjukkan bahwa pemain Kolombia bisa cerdas, bukan "dumbo".

Sang kakak, Santiago Escobar, sempat meninggalkan sepak bola profesional selama lima tahun setelah adiknya tewas. "Saya tidak tahan dengan kemunafikan. Saya marah dan kecewa. Saya hanya bermain dengan anak-anak, itu terapi saya," katanya. Ia kemudian mendirikan sekolah sepak bola atas nama Andres dan kini kembali menjadi pelatih, bahkan sempat menukangi Atletico Nacional. "Kematian Andres masih membuat saya sedih, tapi saya juga bangga. Ada orang yang tidak mengenalnya saat hidup, tapi tetap meneriakkan namanya di stadion dan terinspirasi oleh teladannya sebagai olahragawan," pungkasnya.

Follow kalselonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: fourfourtwo.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks