PARINGIN — Optimisme itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, Ahmad Sauki, pada Senin (23/6/2026). Ia menyebutkan, berdasarkan data tahun 2025, angka stunting di daerahnya tercatat 14,53 persen—sedikit menurun dari 14,58 persen pada tahun sebelumnya. Meski begitu, capaian itu masih di atas target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) yang sebesar 11,88 persen.
“Kami optimistis target tahun 2026 bisa dicapai apabila seluruh program intervensi berjalan maksimal dan didukung partisipasi masyarakat. Kesadaran masyarakat saat ini jauh lebih baik dibanding beberapa tahun lalu,” ujar Sauki.
Bantuan Susu untuk Bayi dan Balita Jadi Intervensi Andalan
Salah satu program unggulan yang dijalankan adalah pemberian bantuan susu bagi bayi dan balita yang membutuhkan dukungan perbaikan gizi. Program ini, kata Sauki, merupakan instruksi langsung dari Bupati Balangan sebagai bentuk perhatian terhadap peningkatan status gizi anak sejak usia dini.
“Ada program dari Bupati Balangan berupa pemberian susu kepada bayi dan balita yang membutuhkan intervensi gizi. Program ini menjadi salah satu bentuk perhatian pemerintah daerah untuk membantu meningkatkan status gizi anak sejak dini,” jelasnya.
Data Riil Desa Jadi Kunci Agar Intervensi Tepat Sasaran
Selain pemenuhan gizi, Dinas Kesehatan Balangan juga fokus membenahi akurasi data sasaran. Sauki menegaskan, tanpa basis data yang valid, program penanganan stunting tidak akan efektif. Oleh karena itu, setiap puskesmas dan pemerintah desa didorong memiliki data riil mengenai jumlah bayi, balita, dan ibu hamil di wilayah masing-masing.
“Program tidak akan tepat sasaran apabila kita tidak memiliki basis data yang benar. Karena itu kami ingin setiap puskesmas dan desa memiliki data riil mengenai jumlah bayi, balita, dan ibu hamil di wilayahnya,” tambahnya.
Pendampingan Ibu Hamil Risiko Tinggi Diperkuat di Semua Puskesmas
Pemkab Balangan juga memperkuat pendampingan bagi ibu hamil dengan risiko tinggi. Langkah ini melibatkan tenaga kesehatan dan dokter spesialis secara bertahap di seluruh puskesmas. Tujuannya, mencegah kelahiran bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yang menjadi salah satu faktor risiko utama stunting.
Upaya ini dibarengi dengan peningkatan kualitas layanan kesehatan ibu dan anak melalui penguatan kapasitas bidan serta penerapan standar pelayanan persalinan yang lebih baik di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
Penurunan Stunting Butuh Peran Aktif Semua Elemen, Bukan Hanya Sektor Kesehatan
Sauki menekankan, keberhasilan menekan angka stunting tidak bisa hanya mengandalkan sektor kesehatan. Menurutnya, keterlibatan keluarga, pemerintah desa, lembaga pendidikan, dan elemen masyarakat lainnya menjadi penentu.
“Kami berharap semua pihak dapat bersama-sama berperan aktif dalam upaya pencegahan stunting. Jika dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi, insyaallah target prevalensi stunting 10,58 persen pada tahun 2026 dapat kita capai,” pungkasnya.