Pencarian

Timnas Iran Kehilangan Dukungan Rakyat di Tengah Krisis Ekonomi dan Politik, Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat Kini Terancam

Jumat, 05 Juni 2026 • 22:29:31 WIB
Timnas Iran Kehilangan Dukungan Rakyat di Tengah Krisis Ekonomi dan Politik, Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat Kini Terancam
Sepak bola Iran kehilangan sambutan hangat masyarakat di tengah krisis nasional.

KALIMANTAN SELATAN — Untuk pertama kalinya dalam hampir tiga dekade, lolosnya Timnas Iran ke Piala Dunia tidak disambut euforia di jalan-jalan Teheran. Berbeda dengan momen bersejarah tahun 1998 saat kemenangan atas Australia memicu pesta nasional yang dikenang bertahun-tahun, kali ini keheningan justru menjadi jawaban rakyat. Video perayaan kualifikasi edisi sebelumnya masih mudah ditemukan di internet, tetapi unggahan serupa untuk Piala Dunia 2026 nyaris tidak ada di media sosial.

Dari Simbol Harapan Jadi Tim Rezim

Pemisahan ini mulai terasa sejak September 2022, setelah kematian Mahsa Amini dalam tahanan polisi memicu gelombang protes "Woman, Life, Freedom". Saat itu, para pengunjuk rasa menilai skuad Garuda Persia tidak bersikap tegas terhadap tindakan keras aparat. Meskipun para pemain berdiri diam saat lagu kebangsaan dikumandangkan di laga melawan Inggris di Piala Dunia Qatar—sebagai bentuk solidaritas terhadap korban kerusuhan—sikap itu tidak cukup untuk mendekatkan kembali tim dengan pendukungnya.

"Timnas Iran berubah dari representasi rakyat saat perang dengan Irak menjadi corong rezim," ujar Nima, 42 tahun, warga Iran yang tinggal di luar negeri. "Saya tidak peduli lagi dengan hasil apa pun yang mereka raih."

Beban Ekonomi dan Perang yang Mengubah Prioritas

Tekanan hidup sehari-hari menjadi faktor lain yang menggerus minat terhadap sepak bola. Daya beli yang terus menurun dan bayang-bayang perang—yang kini bukan lagi sekadar ancaman setelah serangan Amerika Serikat pada 28 Februari lalu selama 40 hari—telah menggeser perhatian publik. Arya, 38 tahun, mengaku tidak pernah merasakan Piala Dunia serendah ini dalam hidupnya. "Sebagian karena perang, kondisi ekonomi, dan semua kesulitan setahun terakhir. Ditambah lagi, jarak antara tim nasional dan rakyat semakin lebar."

Kontras terasa jelas jika dibandingkan dengan Piala Dunia 2014, di mana kekalahan tipis 1-0 dari Argentina di fase grup justru memicu pesta harapan di jalanan. Atau Piala Dunia 2018, ketika pertandingan Iran diputar di layar raksasa Stadion Azadi dan mendapat sambutan luar biasa.

Liga Berjalan Sepi, Pemain Tak Berani Rayakan Gol

Ali Moghani, jurnalis olahraga dan presenter TV nasional Iran, mencatat tanda-tanda penurunan minat sudah terlihat sejak awal musim Liga Iran pada Agustus lalu. Setelah protes Januari yang menewaskan ribuan orang—pemerintah mencatat lebih dari 3.000 korban, sementara sumber oposisi menyebut hingga 40.000—liga digelar tanpa penonton. Sebagian besar pemain bahkan enggan merayakan gol setelah mencetak angka.

Di tengah situasi ini, partisipasi Iran di Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko justru berada dalam ketidakpastian. Serangan AS ke Iran pada akhir Februari lalu membuat prospek keikutsertaan tim makin buram. Upaya oposisi untuk menekan FIFA agar mendiskualifikasi Iran melalui surat-surat protes juga dinilai tidak akan membuahkan hasil, mengingat kebijakan organisasi sepak bola dunia tersebut.

Abbas Kiarostami, sutradara legendaris Iran, pernah membuat film Life, and Nothing More… yang menggambarkan seorang pria dengan lengan patah tetap bersusah payah memasang antena televisi di tengah reruntuhan gempa—hanya untuk menonton Argentina melawan Brasil di Piala Dunia 1990. "Yang penting saat itu adalah hidup—dan kemudian sepak bola," tulis Kiarostami. Empat dekade kemudian, urutan prioritas itu tampaknya telah berubah drastis bagi rakyat Iran.

Bagikan
Sumber: theguardian.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks