Bupati Muhammad Rusli menyebut hasil panen di lahan baku sawah (LBS) seluas 54 hektare itu mencapai 3 hingga 4 ton per hektare. Ia optimistis angka tersebut bisa ditingkatkan seiring dengan perluasan areal tanam dan perbaikan infrastruktur pertanian.
“Panen ini dalam satu hektar berkisar 3-4 ton, mudah-mudahan ini menjadi peningkatan pangan khususnya di Kabupaten Kotabaru, karena ini salah satu untuk mencapai kesejahteraan masyarakat kita di bidang pangan,” ujar Bupati.
Kendala Alat Pertanian: APBD dan Usulan ke Pusat
Wakil Bupati Syairi Mukhlis mengungkapkan kendala utama yang dihadapi petani saat ini adalah keterbatasan alat dan mesin pertanian (alsintan). Menurutnya, Bupati telah berkoordinasi dengan kepala dinas terkait untuk menangani sebagian kebutuhan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
“Yang mana-mana mungkin harus diusulkan ke Pemerintah Pusat karena ini merupakan program pusat terkait dengan ketahanan pangan,” kata Syairi. Ia menegaskan, percepatan produktivitas padi di Kotabaru otomatis harus didukung dengan ketersediaan peralatan pertanian yang memadai.
Cetak Sawah Rakyat 41,85 Hektare Jadi Percontohan
Dalam kunjungan itu, Bupati dan rombongan meninjau langsung lahan Cetak Sawah Rakyat (CSR) program Kementerian Pertanian tahun 2025 seluas 41,85 hektare di Desa Teluk Mesjid. Lahan ini diharapkan menjadi model bagi pengembangan sawah baru di kecamatan lain.
Selain itu, panen raya dilakukan di lahan baku sawah seluas 54 hektare yang sudah lebih dulu dikelola petani setempat. Bupati menargetkan Kotabaru bisa menjadi lumbung pangan di Kalimantan Selatan.
“Sektor pertanian ini akan kita kembangkan, kita tingkatkan, kita dukung, sehingga nantinya Kotabaru akan menjadi lumbung pangan,” harap Muhammad Rusli.
Hadir dalam Kegiatan
Panen raya dan peninjauan lahan itu dihadiri oleh Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Ketua DPRD Kotabaru, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra, Staf Ahli, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, serta Camat Pulau Laut Timur.