BANJARMASIN — Kepala Perwakilan OJK Kalimantan Selatan yang diwakili Andi Rahman menyatakan perkembangan teknologi memang memudahkan transaksi keuangan, tetapi masyarakat kini menghadapi risiko kejahatan digital, gangguan transaksi, hingga penawaran investasi ilegal. Karena itu OJK menginisiasi Program Penggerak Inklusi Keuangan Indonesia (PPIKI) dengan melibatkan generasi muda sebagai agen perubahan.
Peserta bootcamp tidak hanya dituntut memahami pengelolaan keuangan pribadi. Mereka juga diharapkan menyebarluaskan edukasi kepada teman sebaya, keluarga, sekolah, dan masyarakat sekitar.
Andi menilai kelompok muda paling rentan sekaligus paling efektif menyebarkan informasi. "Generasi muda harus mampu menjadi penggerak edukasi sekaligus membantu melindungi masyarakat dari berbagai potensi penipuan dan kejahatan keuangan," ujarnya.
Lewat pelatihan ini, peserta diminta memperdalam pengetahuan tentang produk dan layanan jasa keuangan, memahami risikonya, lalu menyampaikan informasi secara kreatif dan tepat sasaran. OJK juga mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan dalam memperkuat literasi dan inklusi keuangan di Banua.
Direktur Utama Bank Kalsel yang diwakili Direktur Iwan menegaskan keterlibatan bank daerah itu sebagai bentuk dukungan peningkatan pemahaman keuangan, khususnya di kalangan generasi muda. Duta Aksel perlu dibekali kemampuan komunikasi dan kreativitas agar edukasi menjangkau berbagai saluran, termasuk media sosial.
"Kami mendorong para Duta Aksel memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi yang positif dan bertanggung jawab. Pastikan informasi yang disampaikan akurat, bermanfaat, dan sesuai ketentuan," katanya.
Iwan menyebut keberhasilan duta literasi keuangan tidak diukur dari banyaknya konten yang diproduksi. Ukuran sebenarnya ada pada kualitas informasi dan dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Selatan yang diwakili Kepala Bidang Pendidikan SMA, Dedi Hidayat, menilai bootcamp mendukung pendidikan karakter dan kecakapan hidup peserta didik. Pemahaman literasi keuangan perlu ditanamkan sejak dini, mulai dari membedakan kebutuhan dan keinginan, membiasakan menabung, hingga merencanakan keuangan sesuai kemampuan.
Dedi mengingatkan generasi muda agar kritis terhadap tawaran keuntungan besar, memeriksa legalitas produk keuangan, serta menjaga kerahasiaan data pribadi, PIN, dan kode OTP.
"Kami bangga karena sejumlah peserta didik dari sekolah di Kalimantan Selatan terpilih menjadi Duta Literasi Keuangan. Mudah-mudahan mereka berperan aktif menyebarluaskan edukasi dan menjadi teladan di lingkungan masing-masing," ujarnya.
Sinergi OJK, Bank Kalsel, sekolah, dan pemangku kepentingan lain dinilai perlu terus diperkuat agar edukasi keuangan menjangkau lebih banyak warga. Lewat Bootcamp Duta Aksel 2026, ketiga pihak berharap lahir generasi muda yang cakap mengelola keuangan, bertanggung jawab memakai layanan digital, serta mampu meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap penipuan di sektor jasa keuangan.