Perempuan Diminta Naik Kelas di Tengah Derasnya Arus Teknologi, Jurnalis Kalsel Disebut Harus Pahami Karakteristik Lahan Gambut

Penulis: Zulham Nasution  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 13:02:02 WIB
Perempuan Kalimantan Selatan didorong untuk meningkatkan kapasitas diri di tengah disrupsi teknologi dan tekanan lingkungan.

BANJARMASIN — Perempuan di Kalimantan Selatan tidak boleh berhenti pada peran sebagai pelaku UMKM atau sekadar penyampai informasi. Di tengah disrupsi teknologi dan tekanan lingkungan, kapasitas sumber daya manusia perempuan harus ikut naik kelas agar mampu mengambil peran lebih besar dalam mendorong perubahan sosial.

Hal ini ditegaskan Dr. Hj. Hastin Umi Anisah, SE, MM, CT.NNLP, CH.t, saat menjadi pemantik dalam Silaturahmi dan Diskusi Reflektif bertema "Perempuan dan Media: Merawat Kedaulatan Informasi, Menebar Keadilan" di WKK Stage, Sabtu (29/8/2026).

Modal Manajerial dari Dapur Bisa Jadi Fondasi Bisnis

Hastin menilai kemampuan mengatur keuangan rumah tangga, menentukan kebutuhan keluarga, hingga mengambil keputusan adalah modal manajerial yang nyata. Kemampuan tersebut, kata dia, bisa menjadi fondasi untuk berkontribusi lebih luas di dunia usaha dan kehidupan sosial.

"Bukan hanya UMKM yang harus naik kelas, tetapi perempuan sebagai sumber daya manusia juga harus naik kelas," ujarnya.

Menurutnya, aktivitas sederhana seperti berjualan sayur, makanan, kue, hingga mengembangkan produk rumahan merupakan denyut ekonomi riil yang harus diperkuat dengan pengetahuan dan keterampilan baru.

Jurnalis Perempuan dan Tantangan Kecerdasan Buatan

Perubahan teknologi dan pola komunikasi berlangsung sangat cepat. Hastin menekankan bahwa jurnalis perempuan tidak cukup hanya pandai menulis, tetapi juga wajib memahami teknologi digital, media sosial, hingga kecerdasan buatan.

"Di tengah perkembangan teknologi, satu hal yang tidak boleh hilang adalah etika, integritas dan keberpihakan pada kebenaran," tegasnya.

Mengapa Pemberitaan Karhutla Tidak Boleh Dangkal

Hastin menyoroti kompetensi jurnalis dalam mengawal isu lingkungan di Kalsel, terutama kebakaran hutan dan lahan. Pemberitaan tidak boleh berhenti pada laporan titik api atau luas lahan terbakar, melainkan harus menggali akar persoalan.

Setiap daerah memiliki kondisi ekologis berbeda. Kalsel memiliki kawasan rawa dan lahan gambut yang karakteristiknya berbeda dengan tanah mineral. Lahan gambut mampu menyimpan air, namun saat musim kemarau lahan mengering dan rentan terbakar. Api di gambut bahkan bisa bertahan di bawah permukaan.

"Kalau kita berbicara tentang pengelolaan lingkungan, kita harus melihat karakteristik tanahnya. Kalsel punya wilayah rawa dan gambut yang memiliki karakteristik tersendiri," jelas Hastin.

Media Harus Hadir Sebelum Api Membesar

Hastin menilai media tidak semestinya hanya datang saat bencana terjadi. Potensi musim kemarau panjang seharusnya menjadi dasar pemberitaan yang mendorong langkah antisipasi sejak dini.

"Peran kita bukan hanya menjadi korban. Kita bisa mencegah, mengeluarkan informasi dan menggerakkan perubahan," tegasnya.

Untuk menjalankan fungsi tersebut, jurnalis harus memperkuat pemberitaan dengan data dan narasumber yang memiliki keahlian, bukan sekadar wawancara di lapangan tanpa konteks.

Reporter: Zulham Nasution
Sumber: kalimantanpost.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top