KANDANGAN — Julukan Kota Perjuangan yang melekat pada Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) bukanlah sekadar label seremonial. Sebutan itu berakar pada peristiwa Proklamasi 17 Mei 1949, sebuah deklarasi kemerdekaan yang digaungkan di Kandangan saat agresi militer Belanda masih berlangsung. Peristiwa ini menjadi titik api perlawanan rakyat di wilayah Kalimantan Selatan yang jarang tersentuh sorotan nasional.
Proklamasi 17 Mei 1949 merupakan deklarasi yang dinyatakan oleh para pejuang di Kandangan untuk menegaskan kembali kemerdekaan Indonesia di tengah tekanan Belanda. Berbeda dengan proklamasi nasional yang dibacakan Soekarno-Hatta, peristiwa di HSS ini adalah respons lokal terhadap kekosongan kekuasaan dan upaya Belanda menguasai kembali wilayah pedalaman Kalimantan. Para pejuang dari berbagai laskar rakyat berkumpul di pusat kota Kandangan untuk menyatakan bahwa wilayah HSS dan sekitarnya tetap berada di bawah kedaulatan Republik Indonesia.
Julukan Kota Perjuangan diberikan karena HSS menjadi pusat sejarah perjuangan rakyat Kalimantan Selatan. Kandangan, sebagai ibu kota kabupaten, menjadi saksi bisu bagaimana rakyat bahu-membahu melawan kolonialisme. Peristiwa Proklamasi 17 Mei 1949 menjadi salah satu pilar utama yang memperkuat identitas daerah ini sebagai basis perlawanan. Nilai heroisme itu terus diwariskan secara turun-temurun, meski generasi muda kini jarang mendapatkan narasi lengkapnya.
Di Kandangan, beberapa titik lokasi yang menjadi saksi peristiwa tersebut masih bisa ditelusuri. Meski tidak semua bangunan asli berdiri utuh, masyarakat setempat menjaga memori kolektif melalui upacara peringatan tahunan dan penamaan jalan. Pemerintah Kabupaten HSS pun berupaya menjadikan momen ini sebagai bagian dari kurikulum muatan lokal agar generasi penerus tidak melupakan akar perjuangan daerahnya.
Narasi Proklamasi 17 Mei 1949 ini menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak hanya terjadi di Jawa. Di pelosok Kalimantan Selatan, rakyat Kandangan juga menggelorakan semangat yang sama, meski harus bertaruh nyawa di tengah kepungan tentara Belanda.