Dalam unggahan di akun X miliknya, Sweeney menuliskan sindiran pedas yang menyebut bahwa rantai pasok komponen untuk kapal pesiar super mewah tengah mengalami gangguan parah. "Semua orang terlalu keras di sini. Ada kenaikan signifikan dalam biaya komponen yang akhirnya didanai oleh pelanggan Steam, dan tren ekonomi telah menciptakan gangguan parah pada rantai pasok untuk kapal pesiar super mewah," tulisnya, seperti dikutip dari berbagai sumber, Kamis (28/5).
Sindiran Sweeney merujuk pada Leviathan, sebuah superyacht sepanjang 111 meter yang dibangun khusus untuk Gabe Newell. Kapal ini bukan sekadar kapal pesiar biasa. Dilengkapi rumah sakit, garasi kapal selam, 15 PC gaming, dua pusat kebugaran, serta klub pantai seluas 250 meter persegi lengkap dengan spa dan bar, Leviathan tercatat sebagai kapal pesiar terbesar ke-50 di dunia saat ini.
Bagi Sweeney, keberadaan kapal semegah itu menjadi ironi di saat Valve menaikkan harga perangkat gaming handheld buatannya. Namun, banyak pihak menilai komentar ini hanya sekadar "pukulan" tanpa substansi, mengingat kenaikan harga Steam Deck lebih mungkin disebabkan oleh lonjakan harga memori global yang sedang terjadi.
Komentar Sweeney langsung mendapat respons balik yang keras dari warganet. Unggahan teratas di kolom komentar X membalas: "Hei Tim, kapan terakhir kali Valve melakukan PHK terhadap karyawannya? Oh, tidak pernah?"
Fakta ini menjadi senjata balik yang ampuh. Valve tercatat hanya melakukan PHK pada 2019 dengan 13 orang, dan sebelumnya pada 2013 dengan puluhan staf. Sebaliknya, Epic Games baru saja merumahkan 1.000 karyawan dua bulan lalu. Seorang mantan karyawan Epic bahkan mengaku hanya mendapat sedikit petunjuk bahwa pendapatan perusahaan sedang tidak baik.
Terlepas dari polemik yang melibatkan dua tokoh industri game ini, fakta di lapangan justru menunjukkan permintaan yang luar biasa. Seluruh model Steam Deck di Amerika Utara ludes terjual dalam waktu kurang dari 24 jam setelah pengumuman kenaikan harga. Padahal, beberapa model mengalami lonjakan harga hingga nyaris 50 persen dari harga aslinya.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran baru di kalangan konsumen. Jika perangkat entry-level sekalipun bisa laku di harga yang jauh lebih mahal, bukan tidak mungkin ke depannya konsumen harus merogoh kocek lebih dalam lagi untuk sekadar memiliki perangkat gaming di ruang tamu mereka—bahkan jika kenaikan itu bukan sepenuhnya kesalahan Valve.