Pencarian

Review The Legend of Zelda: Ocarina of Time 2026, Remaster Setia Grafis Baru

Rabu, 04 November 2026 • 18:34:31 WIB
Review The Legend of Zelda: Ocarina of Time 2026, Remaster Setia Grafis Baru
Remaster The Legend of Zelda: Ocarina of Time hadir dengan model grafis resolusi tinggi.

KALIMANTAN SELATAN — Nintendo merilis ulang The Legend of Zelda: Ocarina of Time untuk 2026 dengan model grafis resolusi tinggi dan kamera yang bisa diatur penuh. Cerita serta mekanik tempur 3D aslinya tetap utuh, sementara sistem Threads of Time memudahkan pemain baru melacak misi. Remaster ini paling pas untuk penggemar berat seri Zelda dan pemain muda yang belum pernah mencoba versi 1998.

Nintendo mempertahankan hampir seluruh isi permainan aslinya, termasuk alur cerita dan mekanik pertarungan yang dulu jadi cetak biru game 3D modern. Perubahan terbesar justru ada di sisi visual dan sejumlah penyesuaian kecil yang membuat pengalaman bermain lebih nyaman.

Spesifikasi dan Perubahan Visual

Peningkatan paling kentara ada pada model karakter dan lingkungan. Poligon kotak-kotak era Nintendo 64 diganti model resolusi tinggi yang tetap mempertahankan nuansa versi asli.

Art director Aya Shida menyebut timnya ingin membangun ulang Hyrule tanpa menghilangkan kesan aslinya. Pendekatan itu disebut turut mengambil inspirasi dari pertunjukan boneka dan efek film praktis.

Hasilnya, Ocarina versi baru punya estetika yang terasa nostalgik, dengan nuansa mirip film The Dark Crystal. Beberapa detail memang tampak janggal jika diperhatikan, seperti mata Young Link yang membesar atau hidung karakter yang dibuat berlebihan. Namun secara keseluruhan, tampilannya tetap memikat.

Efek visual baru juga terasa di pertarungan. Partikel muncul saat Link menebas musuh, sementara kabut tipis menyelimuti sejumlah dungeon. Forest Temple terasa lebih angker, dan Death Mountain tampil lebih panas serta berbahaya dibanding versi aslinya.

Mekanik Klasik yang Tetap Dipertahankan

Berbeda dari remake Final Fantasy VII, Nintendo tidak mengubah cerita maupun mekanik inti Ocarina of Time. Keputusan ini masuk akal mengingat versi 1998 adalah salah satu game pertama yang berhasil memetakan pertarungan 3D lewat analog stick.

Saat dimainkan sekarang, Ocarina terasa seperti cikal bakal game modern seperti Dark Souls dan Elden Ring. Tempur dan puzzle-nya memang lebih sederhana, tetapi justru memberi pengalaman yang menyegarkan dan mudah dicerna pemain baru.

Sejumlah penyesuaian teknis ikut hadir. Kamera kini bisa diatur penuh sehingga membantu saat pertarungan ramai. Menu item cepat juga diperbarui, dan Link mendapat kemampuan sprint dengan menahan tombol A setelah berguling.

Threads of Time dan Perbaikan Kualitas Hidup

Sistem Threads of Time menjadi tambahan paling berguna bagi pendatang baru. Fitur ini membantu pemain melacak quest dan tujuan yang sedang aktif, terutama setelah lama tidak bermain.

Nintendo juga merapikan sejumlah hal kecil. Jumlah rupee yang bisa dikumpulkan di awal permainan dibatasi, dan beberapa bagian medan diperbaiki untuk menutup celah eksploitasi serta jalan pintas.

Navi, peri pendamping Link, kini jauh lebih jarang bicara. Bagi pemain lama yang lelah mendengar teriakan "Hey, listen", perubahan ini terasa melegakan.

Catatan Kekurangan

Rendering air masih jadi titik lemah. Tampilannya kerap membuat karakter dan makhluk terlihat seperti berlendir. Keluhan ini tergolong kecil karena secara keseluruhan kualitas visual remaster tergolong rapi.

Pemain yang berharap perubahan sebesar remake Final Fantasy VII mungkin akan kecewa. Nintendo jelas memilih jalur konservatif: memoles tampilan dan kenyamanan, bukan merombak fondasi permainan.

Kesimpulan

Remaster Ocarina of Time 2026 cocok untuk dua kelompok. Penggemar lama yang ingin mengenang game legendaris dengan tampilan lebih segar, serta pemain muda yang ingin memahami asal-usul formula game 3D modern.

Mekanik yang sederhana bukan kelemahan di sini. Justru itu yang membuat Ocarina tetap relevan sebagai gerbang masuk ke genre petualangan aksi, hampir tiga dekade setelah versi pertamanya dirilis.

Follow kalselonline.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: engadget.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks