BARABAI — Setelah hampir sebulan dilanda panas dan lahan kering, hujan deras akhirnya tiba di Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan, Senin (7/9/2026) siang. Intensitas hujan yang turun sejak pukul 14.14 Wita hingga 15.08 Wita ini sempat membuat sejumlah ruas jalan di Barabai Kota tergenang.
Wilayah Pajukungan, Benawa Tengah, Aluan, dan Wawai turut merasakan berkah serupa. Tanah yang sebelumnya kering dan retak kini kembali basah, membawa hawa sejuk yang sudah lama dinanti warga.
Harapan Warga di Tengah Ancaman Karhutla
Kedatangan hujan ini langsung disambut syukur oleh masyarakat. Rahman, warga Barabai Timur, mengaku lega karena titik-titik air mulai membasahi pekarangan rumahnya.
"Alhamdulillah, di Barabai Timur sudah hujan. Mudahan hujan lagi," ujarnya kepada wartabanjar.com.
Di kawasan Aluan, hujan turun dengan intensitas lebih ringan. Ahmed, warga setempat, berharap curah hujan segera meningkat agar lahan pertanian yang selama ini mengering bisa kembali pulih.
"Di Aluan masih rintik, mudah-mudahan segera labat," katanya.
Catatan 38 Kejadian Karhutla di HST
Harapan masyarakat ini tak lepas dari tingginya kewaspadaan terhadap karhutla di Kalimantan Selatan, khususnya HST. Kondisi kering yang berkepanjangan sebelumnya membuat potensi kebakaran lahan menjadi ancaman serius yang terus dipantau.
Berdasarkan data kejadian periode Juli hingga Agustus 2026, tercatat 38 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar mencapai 66,756 hektare. Kecamatan Labuan Amas Selatan menjadi wilayah dengan kejadian terbanyak, yakni 12 kejadian.
Gusti, seorang warga yang berada di kawasan Pasar Barabai, menyebut hujan di pusat kota cukup deras. Ia berharap air yang turun kali ini mampu membasahi lapisan tanah paling atas yang selama ini menjadi titik rawan penyebaran api.
"Di Pasar Satu lumayan labat," ujarnya.
Hujan Baru Merata di Kawasan Tengah
Meski membawa harapan, guyuran hujan Senin sore ini belum menjangkau seluruh kecamatan di HST. Warga berharap intensitas hujan terus bertambah dan merata, terutama di wilayah selatan yang selama ini menjadi penyumbang kejadian karhutla terbanyak.
Pasokan air yang cukup dinilai penting tidak hanya untuk memadamkan titik-titik panas di lahan gambut, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga yang mulai menipis selama musim kemarau.