BANJARBARU — Kualitas udara di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, kembali memburuk akibat kabut asap karhutla pada Senin pagi. Warga yang beraktivitas di luar ruangan merasakan dampaknya langsung, mulai dari bau menyengat hingga rasa sesak di dada.
Berdasarkan pantauan, ketebalan kabut asap kali ini lebih pekat dibandingkan hari sebelumnya. Kondisi tersebut mengganggu kenyamanan sekaligus memunculkan kekhawatiran warga akan dampak kesehatannya.
Warga Mengaku Napas Terasa Sesak Akibat Bau Asap
Fauzi, warga Landasan Ulin, mengungkapkan pekatnya asap membuat aktivitas di luar rumah menjadi tidak nyaman. Ia mengaku masih mencium bau asap yang menyengat meskipun telah mengenakan masker.
"Asapnya pekat, sampai tembus masker. Baunya juga menyengat," ujarnya kepada RRI, Senin (31/8/2026).
Lebih lanjut, ia mengaku khawatir beraktivitas di tengah kondisi tersebut karena asap yang terhirup membuat pernapasannya terasa sesak. "Kalau beraktivitas jadi khawatir, karena bau asap cukup menyengat dan membuat napas terasa sesak," katanya.
Konsentrasi PM2.5 di Banjarbaru Masuk Kategori Sedang
Data dari Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan mencatat konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Banjarbaru pada pukul 00.00 hingga 09.00 WITA berada dalam kategori Sedang. Meski belum masuk kategori tidak sehat, angka ini menunjukkan adanya pencemaran udara yang perlu diwaspadai.
Konsentrasi PM2.5 tertinggi tercatat pada pukul 08.00 WITA, yakni mencapai 40,50 µg/m³. Angka ini masih berada dalam batas kategori Sedang, namun masyarakat tetap diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan.
Imbauan untuk Warga agar Mengurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Menyikapi kondisi ini, masyarakat diminta untuk tidak lengah. Gangguan pernapasan seperti batuk dan sesak napas bisa muncul sewaktu-waktu jika paparan asap terus berlangsung. Warga yang mulai merasakan gejala tersebut disarankan untuk segera memeriksakan diri.
Stasiun Klimatologi Kalimantan Selatan juga mengingatkan warga agar mengurangi paparan asap secara langsung serta memperhatikan kondisi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia. Situasi ini masih terus dipantau seiring upaya penanganan karhutla yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan.