KALIMANTAN SELATAN — Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, mengonfirmasi bahwa proses tajak (spud) Sumur Laba Laba-1 telah berjalan lancar menggunakan Rig Admarine 502. Sumur ini dioperasikan oleh Prime Natuna EP, operator baru yang resmi mengakuisisi Premier Oil Natuna Sea pada 28 Mei 2026. Keberhasilan tajak ini menjadi sinyal positif bagi iklim investasi hulu migas di Indonesia, terutama di tengah upaya pemerintah mengejar target produksi minyak dan gas.
Mengincar Reservoir yang Terbukti Produktif
Sumur Laba Laba-1 menyasar reservoir batupasir Upper Arang (UA Aa-8), formasi geologi yang sama dengan lapangan-lapangan produktif di sekitarnya seperti Pelikan, Naga, dan Iguana. Berdasarkan data Kementerian ESDM 2025, ketiga lapangan tersebut secara kumulatif telah memproduksi sekitar 578 BCF gas. Ini menunjukkan bahwa target pengeboran bukan area yang asing, melainkan wilayah dengan tingkat keberhasilan tinggi.
Reservoir tersebut diperkirakan berada di kedalaman 4.298 kaki TVDSS, dengan rencana total kedalaman sumur mencapai 5.597 kaki TVDSS. Dari hasil evaluasi geologi dan geofisika awal, sumur ini diproyeksikan menyimpan potensi sumber daya terambil (recoverable resource) sebesar 45 BCF dry gas.
Rangkaian Pengeboran dan Target Produksi Cepat
Laba Laba-1 hanyalah sumur pertama. Setelahnya, SKK Migas dan Prime Natuna EP akan melanjutkan pengeboran Bekantan-1 dan Tenggiling South-1. Total potensi sumber daya terambil dari ketiga sumur ini mencapai 226 BCF gas. Seluruh rangkaian pengeboran ditargetkan rampung pada November 2026 sebelum musim monsun tiba di perairan Natuna.
Yang menarik, Laba Laba-1 dan Bekantan-1 masuk dalam program near field exploration. Artinya, kedua sumur ini sengaja dirancang untuk bisa segera dikembangkan setelah ditemukan cadangan. Rencananya, kedua prospek tersebut akan masuk tahap Plan of Development (POD) pada 2027 dan mulai berproduksi pada 2028—atau bahkan lebih cepat dari jadwal.
Efisiensi Infrastruktur dan Dampak bagi Pasokan Gas
Kehadiran fasilitas produksi di Lapangan Naga yang hanya berjarak sekitar 15 kilometer menjadi nilai tambah tersendiri. Jika sumur ini berhasil memproduksi gas, aliran gas awal diperkirakan mencapai 23 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dan bisa langsung dialirkan ke fasilitas eksisting. Dengan begitu, biaya pengembangan bisa ditekan karena tidak perlu membangun infrastruktur baru dari nol.
Djoko menegaskan bahwa keberhasilan pengeboran ini bukan hanya soal tambahan cadangan, tetapi juga soal menjaga keberlanjutan produksi gas nasional di tengah menipisnya cadangan lapangan tua. "Kami mohon doa dan dukungan agar kegiatan pengeboran berjalan aman, lancar, tanpa kecelakaan, serta memberikan hasil terbaik untuk mendukung penemuan cadangan migas baru dan peningkatan ketahanan energi nasional," ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (31/7).
Kampanye pengeboran ini menjadi salah satu indikator kepercayaan investor terhadap pengelolaan hulu migas di Indonesia. Jika seluruh sumur berhasil menemukan cadangan, kontribusinya akan terasa dalam beberapa tahun ke depan—baik bagi penerimaan negara maupun pasokan gas untuk industri dan pembangkit listrik dalam negeri.