Pencarian

SKK Migas Pede Natuna Barat Sumbang 226 BCF Gas Baru, Sumur Perdana Prime Natuna EP Mulai Dibor

Jumat, 31 Juli 2026 • 13:14:01 WIB
SKK Migas Pede Natuna Barat Sumbang 226 BCF Gas Baru, Sumur Perdana Prime Natuna EP Mulai Dibor
Pengeboran sumur eksplorasi Laba Laba-1 di Natuna Barat resmi dimulai menggunakan Rig Admarine 502.

KALIMANTAN SELATAN — Kabar gembira datang dari sektor hulu migas. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) mengumumkan bahwa pengeboran sumur eksplorasi Laba Laba-1 di lepas pantai (offshore) Natuna Barat telah berjalan mulus. Pengeboran ini diharapkan menjadi jawaban atas menurunnya produksi gas nasional yang selama ini menjadi momok bagi ketahanan energi.

Mengapa Sumur Ini Penting?

Sumur Laba Laba-1 bukan sekadar lubang bor biasa. Ia adalah gerbang pembuka bagi kampanye eksplorasi tiga sumur yang dicanangkan Prime Natuna EP, perusahaan yang baru saja mengakuisisi Premier Oil Natuna Sea pada 28 Mei 2026.

Potensinya terbilang signifikan. Berdasarkan evaluasi geologi dan geofisika, sumur yang dibor menggunakan Rig Admarine 502 ini menyimpan potensi sumber daya terambil (recoverable resource) sekitar 45 BCF dry gas. Target utamanya adalah reservoir batupasir Upper Arang (UA Aa-8), formasi yang sama dengan lapangan-lapangan produktif di sekitarnya seperti Pelikan, Naga, dan Iguana.

“Alhamdulillah, pada 30 Juli 2026 pukul 02.20 WIB telah berhasil dilakukan tajak (spud) Sumur Eksplorasi Laba Laba-1 yang berlokasi di Offshore Natuna Barat menggunakan Rig Admarine 502. Sumur ini dioperasikan oleh operator baru Prime Natuna EP,” ujar Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, Jumat (31/7).

Efisiensi dari Infrastruktur Lama

Yang membuat proyek ini menarik bukan hanya soal cadangannya, melainkan juga strategi pengembangannya. Sumur Laba Laba-1 masuk dalam kategori near field exploration, alias eksplorasi di area yang dekat dengan fasilitas produksi yang sudah ada.

Lokasi sumur yang hanya berjarak sekitar 15 kilometer dari Naga Field menjadi nilai tambah tersendiri. Jika hasil pengeboran sesuai target, gas yang ditemukan bisa langsung dialirkan ke fasilitas produksi terdekat tanpa perlu membangun infrastruktur besar dari nol. Dengan begitu, biaya pengembangan bisa ditekan dan waktu produksi bisa dipercepat.

Targetnya ambisius: kedua prospek utama—Laba Laba-1 dan Bekantan-1—diharapkan bisa masuk tahap Plan of Development (POD) pada 2027 dan mulai mengalirkan gas pada 2028. Produksi awal diproyeksikan mencapai 23 juta kaki kubik gas per hari (MMSCFD).

Tambahan Cadangan Hingga 226 BCF

Laba Laba-1 hanyalah langkah awal. Setelah sumur ini tuntas, pengeboran akan berlanjut ke dua sumur lainnya, yakni Bekantan-1 dan Tenggiling South-1. Total potensi sumber daya terambil dari ketiga sumur tersebut mencapai 226 BCF gas.

Untuk konteks, Lapangan Pelikan, Naga, dan Iguana—yang berada di formasi geologi yang sama—secara kumulatif telah memproduksi sekitar 578 BCF gas. Artinya, temuan baru ini berpotensi menambah sepertiga dari total produksi historis di area tersebut.

Seluruh rangkaian pengeboran ditargetkan rampung pada November 2026, sebelum periode monsun tiba. “Kami mohon doa dan dukungan agar kegiatan pengeboran berjalan aman, lancar, tanpa kecelakaan, serta memberikan hasil terbaik untuk mendukung penemuan cadangan migas baru dan peningkatan ketahanan energi nasional,” tutup Djoko.

Keberhasilan eksplorasi ini akan menjadi penentu apakah Indonesia mampu mempertahankan tingkat produksi gasnya di tengah menipisnya cadangan lama. Jika tiga sumur ini menghasilkan sesuai proyeksi, Natuna Barat bisa menjadi salah satu andalan baru pasokan gas bagi industri dalam negeri.

Bagikan
Sumber: dunia-energi.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks