Pencarian

Pemilik Tesla Cybertruck Basis Mengeluh, Transfer FSD Diblokir Tanpa Upgrade Trim Rp 300 Jutaan

Jumat, 12 Juni 2026 • 09:00:31 WIB
Pemilik Tesla Cybertruck Basis Mengeluh, Transfer FSD Diblokir Tanpa Upgrade Trim Rp 300 Jutaan
Pemilik Tesla Cybertruck varian dasar mengeluhkan pemblokiran transfer fitur FSD tanpa upgrade trim.

KALIMANTAN SELATAN — Keluhan mulai bermunculan di forum dan blog Tesla setelah pemilik Cybertruck varian dasar mendapati truk mereka diblokir dari fitur transfer FSD. Padahal, Tesla sebelumnya memberikan sinyal bahwa pemindahan lisensi software itu bisa dilakukan untuk semua varian yang dipesan sebelum batas waktu tertentu.

Masalah ini pertama kali diangkat oleh InsideEVs. Menurut laporan tersebut, varian yang terdampak adalah Cybertruck AWD dasar yang sempat dipesan dengan harga USD 59.990 (sekitar Rp 960 juta) pada Februari lalu. Harga itu hanya bertahan sepuluh hari sebelum naik menjadi USD 69.990 (sekitar Rp 1,12 miliar).

Perubahan Aturan di Saat-Saat Terakhir

Di situs dukungan resmi Tesla, awalnya tertulis bahwa pemilik yang memesan kendaraan sebelum batas waktu Maret bisa melakukan transfer FSD. Namun, setelah kenaikan harga Februari, kalimat itu diam-diam diubah. Kini syaratnya adalah pelanggan harus sudah menerima pengiriman kendaraan sebelum batas waktu yang sama.

Masalahnya, Cybertruck varian termurah baru mulai dikirim ke konsumen pada Juni. Artinya, secara teknis, tidak ada satu pun pemilik varian ini yang memenuhi syarat untuk transfer FSD. Tesla memang sengaja menyisipkan kata "may" (dapat) di versi awal aturan itu, memberi perusahaan celah hukum untuk mengubah kebijakan kapan saja.

Pilihan Sulit: Bayar Lagi atau Cancel Order

Pemilik yang sudah terlanjur membeli lisensi FSD permanen di mobil lama mereka kini dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama tidak mengenakkan. Pertama, upgrade ke varian Cybertruck yang lebih tinggi dengan harga tambahan setidaknya USD 20.000 (sekitar Rp 320 juta). Kedua, membayar langganan FSD USD 99 per bulan (sekitar Rp 1,6 juta) untuk software yang sebenarnya sudah mereka miliki secara perpetual.

Kekecewaan pun meluap di media sosial. Sejumlah pemilik memilih untuk membatalkan pesanan mereka. Sebagai kompensasi, Tesla menawarkan pengembalian biaya pemesanan sebesar USD 250 (sekitar Rp 4 juta). Namun, bagi konsumen yang sudah menunggu berbulan-bulan, nominal itu dianggap tidak sebanding dengan kerumitan yang mereka alami.

Ironi Brand yang Mengandalkan Software

Kejadian ini menjadi ironi tersendiri bagi Tesla. Brand yang selama ini membangun reputasi di atas keunggulan software dan teknologi justru membuat kebijakan yang merugikan pelanggan setianya. Bagi pengamat, langkah ini menunjukkan bahwa Tesla mulai menerapkan strategi segmentasi fitur yang agresif—memaksa konsumen masuk ke varian lebih mahal untuk menikmati layanan yang sebelumnya dianggap standar.

Belum ada pernyataan resmi dari Tesla Indonesia mengenai apakah kebijakan ini berdampak pada konsumen di pasar lokal. Namun, bagi penggemar otomotif Tanah Air, kasus ini menjadi pelajaran bahwa membeli mobil berbasis software—meski dari brand sekelas Tesla—tetap memiliki risiko perubahan kebijakan sepihak yang tidak bisa dihindari.

Bagikan
Sumber: roadandtrack.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks