KALIMANTAN SELATAN — Percepatan pembangunan proyek energi baru terbarukan dan efisiensi energi kembali menjadi sorotan menjelang gelaran The 12th IndoEBTKE ConEx 2026. Forum yang akan berlangsung pada 2-4 Agustus 2026 di Jiexpo Kemayoran ini tidak hanya memamerkan teknologi, tetapi juga menjembatani proyek yang sudah masuk tahap konstruksi dengan calon investor.
Acara yang diinisiasi oleh Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) dan Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) itu menggandeng Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM. Mengusung tema "Indonesia Renewable Energy Acceleration: Executing Strategic Projects, Unlocking Investment, Building Resilience", forum ini diharapkan menjadi ruang negosiasi, bukan sekadar seremonial tahunan.
Ketua Umum METI, Norman Ginting, mengungkapkan bahwa banyak proyek anggota asosiasinya yang kini bergerak menuju tahap konstruksi dan operasi. "IndoEBTKE ConEx 2026 kami jadikan ruang temu antara pengembang, penyedia teknologi, dan pengambil kebijakan untuk mempercepat realisasi proyek tersebut," ujarnya dalam keterangan resmi, Senin (31/3).
Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal METI yang juga Ketua Panitia Pelaksana, Elvi Nasution, menyoroti pentingnya aliran pendanaan. "Melalui forum ini, kami mempertemukan pengembang proyek dengan lembaga keuangan nasional dan internasional, agar aliran investasi hijau ke Indonesia semakin deras dan tepat sasaran," jelasnya.
Untuk memuluskan pertemuan itu, penyelenggara menyiapkan networking hub yang mempertemukan pengembang secara langsung dengan calon investor dan mitra pembiayaan. Inisiatif ini menjadi jawaban atas kebuntuan yang kerap terjadi: proyek siap eksekusi, tetapi modal belum terkunci.
Selain ruang negosiasi, area pameran akan diisi oleh peserta dalam dan luar negeri. Mereka akan menampilkan teknologi terbaru di bidang tenaga surya, angin, bioenergi, panas bumi, hingga sistem penyimpanan energi seperti baterai. Solusi efisiensi energi juga menjadi perhatian khusus tahun ini.
Ketua Umum MASKEEI, Andhika Prastawa, menekankan bahwa penghematan energi adalah pilar ketahanan sistem kelistrikan nasional. "Kami mendorong penguatan implementasi konservasi dan efisiensi energi melalui berbagai inisiatif inovatif, termasuk pengembangan skema Energy Efficiency as a Service," katanya. Skema ini dirancang untuk memperluas adopsi teknologi hemat energi di sektor industri dan komersial tanpa membutuhkan belanja modal besar di awal.
Ruang konferensi tahun ini diperluas menjadi enam sesi pleno dan 12 breakout sessions—hampir dua kali lipat dari edisi sebelumnya. Hal ini mengindikasikan meningkatnya minat pemangku kepentingan untuk mendiskusikan detail teknis dan kebijakan pendukung.
Dorongan untuk mempercepat eksekusi proyek ini muncul di tengah target pemerintah yang ambisius. Kebutuhan investasi di sektor energi bersih diperkirakan membutuhkan pendanaan yang mencapai angka triliunan rupiah hingga akhir dekade ini, menuntut kerja sama lintas kementerian dan lembaga pembiayaan global.
Forum ini diharapkan dapat mengubah komitmen di atas kertas menjadi proyek nyata yang beroperasi. Agendanya jelas: memastikan proyek yang sudah dirancang tidak lagi mandek, dan investasi yang masuk benar-benar berdampak pada ketahanan energi nasional serta ekonomi regional ASEAN.