KALIMANTAN SELATAN — Stasiun Gambir selama ini dikenal sebagai gerbang utama kereta api jarak jauh di Jakarta. Namun ke depannya, stasiun kebanggaan ibu kota itu disiapkan untuk melayani penumpang KRL atau Commuter Line. PT Kereta Api Indonesia (Persero) tengah mengkaji pengembangan tersebut menyusul tingginya permintaan masyarakat terhadap transportasi publik yang terintegrasi.
Data internal KAI menunjukkan, jumlah perjalanan KRL Jabodetabek melonjak dari 217,9 juta perjalanan pada 2022 menjadi 344,6 juta perjalanan pada 2025. Artinya, dalam tiga tahun terakhir terjadi penambahan sekitar 126,6 juta perjalanan—angka yang mencerminkan betapa besar ketergantungan warga terhadap moda kereta.
Meski jalur layang Stasiun Gambir setiap hari dilintasi KRL rute Jakarta Kota–Bogor dan Jakarta Kota–Nambo, stasiun ini belum melayani naik-turun penumpang Commuter Line. Kondisi ini dinilai kurang optimal mengingat posisi Gambir yang strategis di pusat kota.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, mengatakan bahwa pembukaan layanan KRL di Gambir membutuhkan persiapan teknis yang menyeluruh. Beberapa aspek yang harus dipenuhi antara lain kesiapan peron, alur perpindahan penumpang, kapasitas lintas, kelistrikan, persinyalan, hingga pola operasi.
"Apabila layanan Commuter Line di Gambir dikembangkan, maka berbagai aspek harus dipersiapkan secara menyeluruh, mulai dari fasilitas pelayanan pelanggan, kesiapan peron, alur perpindahan, kapasitas lintas, kelistrikan, persinyalan, hingga pola operasi. Keselamatan dan keandalan perjalanan tetap menjadi prioritas utama," ujar Anne di Jakarta, Minggu (30/8/2026).
Sepanjang Januari hingga Juli 2026, Stasiun Gambir telah melayani 3,87 juta pelanggan kereta jarak jauh. Rinciannya, 1,99 juta penumpang naik dan 1,88 juta penumpang turun. Setiap harinya, stasiun ini memfasilitasi 34 perjalanan KA reguler dengan sekitar 78 aktivitas pemberhentian kereta.
Angka tersebut menunjukkan Gambir sudah beroperasi dengan tingkat kepadatan tinggi. Penambahan layanan KRL tentu akan menambah kompleksitas pengelolaan stasiun, namun juga membuka peluang besar bagi peningkatan konektivitas warga menuju pusat aktivitas Jakarta.
Untuk menjawab tantangan ke depan, KAI merancang konsep New Gambir sebagai hub transportasi terpadu. Stasiun ini nantinya akan menghubungkan kereta jarak jauh, KRL, MRT, TransJakarta, serta kawasan Monas dalam satu kawasan terintegrasi.
Konsep ini tidak hanya berfokus pada fungsi mobilitas, tetapi juga menggabungkan elemen hospitality, leisure, dan pusat aktivitas kawasan. Dengan begitu, nilai strategis Stasiun Gambir di jantung ibu kota bisa meningkat signifikan.
"Pertumbuhan perjalanan KRL menunjukkan kebutuhan masyarakat terhadap konektivitas menuju pusat Jakarta terus meningkat. Karena itu, kesiapan Gambir perlu dilihat sebagai bagian dari pengembangan sistem transportasi yang terintegrasi, termasuk apabila ke depan terdapat pengembangan layanan Commuter Line di stasiun ini," tutur Anne.
KAI memastikan transformasi Stasiun Gambir dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kapasitas infrastruktur, operasional, keselamatan, dan kebutuhan pengguna jasa. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menciptakan simpul transportasi yang tangguh di ibu kota, sekaligus menjawab kebutuhan mobilitas warga Jabodetabek yang terus meningkat dari tahun ke tahun.