BANJARBARU — Gangguan operasional akibat kabut asap karhutla di Kalimantan Selatan mulai terasa di Bandara Internasional Syamsudin Noor. Dalam sebulan terakhir, pengelola mencatat setidaknya empat hari penerbangan mengalami kendala yang berkaitan dengan penurunan jarak pandang dan ketidakstabilan angin.
Kondisi itu memaksa sejumlah pilot mengambil langkah antisipatif. Beberapa penerbangan dilaporkan sempat melakukan holding alias menunda pendaratan di udara, serta go around atau membatalkan pendaratan saat proses pendekatan karena pendekatan yang tidak stabil (unstabilized approach).
Salah satu jenis pesawat yang paling terdampak adalah ATR dengan rute menuju Balikpapan. Pesawat bermesin baling-baling ini membutuhkan jarak pandang yang lebih tinggi dibandingkan pesawat jet, sehingga perubahan cuaca secara drastis langsung memengaruhi kelayakan operasionalnya.
Meski begitu, pengelola bandara menegaskan belum ada pembicaraan untuk melakukan penjadwalan ulang atau rescheduling penerbangan secara khusus akibat kabut asap. Langkah yang diambil saat ini lebih bersifat antisipasi di lapangan.
“Sementara ini kami belum ada pembicaraan lebih lanjut untuk melakukan rescheduling. Yang bisa dilakukan adalah melakukan antisipasi di lapangan apabila memang ada kabut asap,” ujar Stephanus.
Untuk memastikan keselamatan penerbangan, pihak bandara memperketat pemantauan kondisi cuaca dan jarak pandang setiap hari. Periode yang menjadi perhatian utama adalah pagi hingga menjelang siang, saat kabut asap biasanya paling pekat menyelimuti area sekitar bandara.
Hasil pemantauan tersebut menjadi dasar bagi pengelola untuk mengambil keputusan operasional, termasuk menentukan kelayakan pesawat untuk lepas landas maupun mendarat. Keselamatan penumpang dan kru tetap menjadi prioritas utama dalam setiap kebijakan yang diambil.
Di tengah upaya menjaga operasional, Bandara Syamsudin Noor juga turun tangan membantu penanganan karhutla. Bantuan logistik diberikan kepada personel yang bertugas di Poslap Karhutla Kalsel, Banjarbaru, Jumat (28/8/2026).
Dukungan tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap petugas yang bekerja keras memadamkan api, khususnya di kawasan sekitar bandara yang rawan terdampak asap.
“Aktivitas di sini sudah cukup padat, makanya kami coba memberikan dukungan sedikit logistik bagi para pelaksana di sini,” jelas Stephanus.
Selain makanan ringan untuk petugas, pengelola bandara juga menyiapkan fasilitas pendukung berupa pompa air. Pompa tersebut dapat dimanfaatkan sewaktu-waktu apabila terjadi kondisi darurat kebakaran di sekitar area bandara.
“Kami memiliki dua pompa, satu menjadi cadangan untuk kami dan satu bisa kami tawarkan apabila terjadi emergensi dan dibutuhkan oleh tim di posko ini,” katanya.
Penggunaan pompa tersebut untuk sementara dinilai lebih efektif dalam mendukung armada pemadam darat. Sementara untuk mendukung operasi pemadaman dari udara menggunakan helikopter, masih perlu mempertimbangkan aspek teknis di lapangan.
Dengan karhutla yang masih terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan, pengelola bandara memastikan pemantauan cuaca, jarak pandang, dan perkembangan titik api akan terus dilakukan secara berkelanjutan demi menjaga aktivitas penerbangan tetap aman.