KALIMANTAN SELATAN — Penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi periode Agustus 2026 membawa kabar baik bagi pengguna kendaraan bermotor. Berdasarkan daftar terbaru yang berlaku hari ini, Sabtu (29/8), harga Pertamax mengalami penurunan sekitar Rp300 hingga Rp350 per liter dari periode sebelumnya.
Penurunan ini berlaku merata di hampir seluruh wilayah Indonesia, kecuali tarif khusus di kawasan Free Trade Zone (FTZ) Sabang dan Batam yang memang memiliki struktur harga berbeda.
Untuk wilayah DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur, harga Pertamax kini berada di angka Rp15.950 per liter. Angka ini turun dari posisi sebelumnya yang berkisar Rp16.250 hingga Rp17.000 per liter.
Sementara itu, wilayah Sumatera Barat, Riau, dan Kepulauan Riau masih mencatat harga Pertamax tertinggi di angka Rp16.650 per liter. Di kawasan ini, Pertamax Turbo dibanderol Rp19.100 per liter.
Kawasan perdagangan bebas kembali menawarkan harga BBM nonsubsidi paling kompetitif. Di FTZ Sabang, Pertamax hanya dipatok Rp14.950 per liter, sedangkan di FTZ Batam harga Pertamax mencapai Rp15.150 per liter.
Menariknya, FTZ Batam juga menjadi satu-satunya wilayah yang menawarkan Pertamax Turbo di bawah Rp18.000, tepatnya Rp17.400 per liter.
Untuk kawasan Indonesia bagian timur, harga BBM nonsubsidi cenderung seragam. Seluruh Sulawesi, Maluku, dan Papua mematok Pertamax di angka Rp16.300 per liter. Namun demikian, ketersediaan jenis BBM tertentu seperti Pertamax Turbo dan Pertamina Dex bisa berbeda antar-SPBU di wilayah tersebut.
Khusus untuk Kalimantan Selatan, harga Pertamax justru lebih tinggi dibanding provinsi tetangganya, yakni Rp16.650 per liter, setara dengan harga di Sumatera Barat dan Riau.
Di tengah penyesuaian harga BBM nonsubsidi, pemerintah melalui Pertamina tidak mengubah harga Pertalite dan Solar subsidi. Kedua jenis BBM tersebut masih dijual masing-masing Rp10.000 dan Rp6.800 per liter di seluruh Indonesia.
Tidak adanya perubahan pada BBM subsidi ini menjadi kabar baik bagi pengguna kendaraan roda dua dan angkutan umum yang mengandalkan Pertalite, serta sektor logistik dan pertanian yang bergantung pada Solar subsidi.