Kenaikan Harga Pertamax Dorong Konsumsi Pertalite Naik 9,4 Persen di Juli 2026

Penulis: Arif Budiman  •  Rabu, 22 Juli 2026 | 09:50:31 WIB
Lonjakan konsumsi Pertalite mencapai 80,3 persen pada Juli 2026 pasca kenaikan harga Pertamax.

KALIMANTAN SELATAN — Direktur Regional Marketing PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading, Eko Ricky Susanto, mengungkapkan lonjakan konsumsi Pertalite ini dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi XII belum lama ini. Kenaikan harga Pertamax cs pada 10 Juni 2026 menjadi pemicu utamanya. Di sejumlah daerah, harga Pertamax bahkan menyentuh Rp 17.000-an per liter.

Komposisi Konsumsi Bergeser Signifikan

Sebelum harga naik, pangsa konsumsi Pertamax mencapai 23,2 persen dan Pertalite 75,4 persen. Namun data per Juli 2026 menunjukkan komposisi berbalik drastis. Konsumsi Pertamax merosot menjadi 18,8 persen, sementara Pertalite naik ke posisi 80,3 persen.

Pertamax Green tercatat hanya 0,2 persen dan Pertamax Turbo 0,7 persen dalam periode yang sama. "Kalau secara komposisi perubahannya pada saat periode Januari-Mei, kondisi untuk produk Pertalite JKBP secara komposisi sekitar 75 persen, saat ini sudah bergeser ke 80 persen. Jadi hampir 5 persen komposisi BBM gasoil sudah bergeser kepada BBM PSO," jelas Eko dalam paparannya.

Biosolar Juga Ikut Terdampak

Fenomena serupa terjadi pada segmen solar. Konsumsi Biosolar naik komposisinya menjadi 94,2 persen dari sebelumnya 93 persen. Kenaikan ini disebut Eko akibat peralihan kendaraan industri yang mulai menggunakan BBM subsidi.

Dampak sebaliknya dirasakan produk Dex series. Komposisi konsumsi Dexlite dan Pertamina Dex tercatat turun 6,4 persen dibandingkan konsumsi rata-rata normal harian. "Pengaruhnya terhadap produk Dex series, Dexlite, maupun Pertadex itu juga terjadi penurunan hampir 6,4 persen," tambahnya.

Stok Pertalite Diklaim Masih Terkendali

Meski konsumsi melonjak, Pertamina memastikan pasokan Pertalite di lapangan masih aman. Peningkatan permintaan disebut masih dalam batas yang bisa diantisipasi tanpa mengganggu distribusi ke konsumen lain. Namun data ini menjadi sinyal kuat bahwa daya beli masyarakat terhadap BBM nonsubsidi semakin tertekan.

Reporter: Arif Budiman
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top