BANJARBARU — Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan mencatat kualitas udara di Kota Banjarbaru sempat masuk kategori berbahaya pada Senin pagi. Level itu terpantau pada pukul 06.00 Wita, lalu berubah menjadi sangat tidak sehat satu jam kemudian.
Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Stasiun Klimatologi Kelas I Kalsel, Wiji Cahyadi, mengatakan kondisi tersebut tidak berlangsung lama. Meski demikian, ia mengimbau warga yang beraktivitas di luar ruangan pada pagi hari untuk mengenakan masker.
"Jika beraktivitas di luar, harap mengenakan masker, terutama saat kabut asap masuk kategori tidak sehat," ujar Wiji dalam keterangan tertulisnya, Senin.
Ahli Meteorologi BMKG Stasiun Syamsudin Noor, Utari Randian, menjelaskan kabut asap dipicu oleh Karhutla yang terjadi sejak Minggu (19/7/2026) siang. Api berhasil dipadamkan, tetapi asap yang dihasilkan terbawa angin ke area bandara mulai malam hingga keesokan harinya.
"Kebakaran lahan yang terjadi dari siang hingga malam dan kondisi ini bisa berlangsung sampai dini hari," kata Utari.
Gangguan terhadap enam penerbangan terjadi pada pagi hari saat jarak pandang terbatas. Namun, setelah arah angin berubah, kabut asap perlahan menipis dan dinyatakan aman untuk aktivitas penerbangan.
"Saat matahari cukup tinggi, itu sudah akan membaik," ujar Utari.
Pemerintah daerah bersama BMKG mengingatkan warga untuk tetap waspada terhadap potensi kabut asap susulan. Warga yang memiliki aktivitas di luar rumah, terutama pada pagi hari, disarankan menggunakan masker guna menghindari gangguan pernapasan.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa musim kemarau masih berpotensi memicu titik api baru di sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Koordinasi antara pemadam kebakaran dan pemerintah daerah terus dilakukan untuk mengantisipasi meluasnya Karhutla.