KALIMANTAN SELATAN — Berdasarkan data pasar spot, rupiah dibuka di kisaran Rp18.090 hingga Rp18.143 per dolar AS pada awal pekan ini. Tekanan terhadap mata uang Garuda berlanjut setelah posisi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada penutupan pekan lalu tercatat di level Rp18.069 per dolar AS.
Pelemahan ini mencerminkan kondisi makroekonomi global yang masih diwarnai ketidakpastian. Investor cenderung menghindari aset berisiko tinggi (risk-off), sementara dolar AS terus menguat di pasar komoditas internasional. Situasi ini membuat rupiah berfluktuasi tajam sejak sesi pembukaan.
Setiap bank memiliki kebijakan harga jual dan beli yang berbeda, tergantung jenis kurs yang digunakan. Untuk transaksi digital melalui mobile banking, acuan kurs e-Rate biasanya lebih kompetitif dibandingkan penukaran uang tunai di konter cabang (Bank Notes). Berikut rinciannya pada Senin (13/7/2026):
Kenaikan dolar AS di atas Rp18.000 memberikan dampak berbeda bagi para pelaku ekonomi. Pihak yang dirugikan adalah importir dan pelaku bisnis yang membeli bahan baku dari luar negeri, karena biaya produksi membengkak. Sebaliknya, eksportir lokal dan pekerja lepas (freelancer) yang menerima pendapatan dalam dolar AS justru diuntungkan, karena nilai rupiah yang mereka terima menjadi lebih besar.
Bagi masyarakat yang hendak melakukan remitansi atau transaksi perdagangan internasional, disarankan untuk membandingkan kurs e-Rate di beberapa bank melalui aplikasi mobile banking. Selisih kurs antara transaksi digital dan tunai bisa mencapai puluhan rupiah per dolar, yang berdampak signifikan pada nominal besar.
Pergerakan rupiah selanjutnya masih akan bergantung pada data ekonomi AS dan kebijakan bank sentral global. Pelaku pasar disarankan untuk terus memantau perkembangan di pasar valas.