Banjarmasin mungkin jadi pintu masuk utama, tapi jiwa Kalimantan Selatan justru terasa di desa-desanya. Saya sendiri beberapa kali nyasar ke perkampungan Banjar karena salah belok, dan malah nemu pemandangan yang nggak ada di brosur turis. Dari pengalaman itu, saya catat tujuh desa yang layak masuk daftar kunjungan Anda—bukan cuma karena pemandangannya, tapi juga karena warga lokal yang masih memegang tradisi erat.
Loksado di Kabupaten Hulu Sungai Selatan terkenal dengan arung jeram Sungai Amandit. Kelas jeramnya bervariasi dari II sampai IV, cocok untuk pemula maupun yang sudah biasa. Saya pernah ikut tur setengah hari, bayar Rp150.000 per orang—sudah termasuk pemandu dan pelampung.
Akses dari Banjarmasin sekitar 4 jam naik mobil. Sepanjang jalan, Anda akan melewati perkebunan karet dan sawah bertingkat. Tips: datang pagi-pagi supaya bisa selesai sebelum hujan turun sekitar pukul 14.00. Warga lokal biasa jualan pisang goreng dan kopi di pinggir sungai—cobain, lebih enak dari kafe di kota.
Di Kelurahan Sungai Jingah, Banjarmasin, ada perkampungan pengrajin kain sasirangan. Berbeda dengan toko di pusat kota, di sini Anda bisa melihat proses pewarnaan alami dari kulit kayu dan akar-akaran. Satu lembar kain ukuran standar dijual mulai Rp75.000—jauh lebih murah ketimbang di mal.
Waktu terbaik datang adalah Sabtu pagi, karena banyak pengrajin membuka rumah mereka untuk demo membatik. Jangan sungkan ngobrol langsung dengan pemiliknya; mereka biasanya cerita soal motif khas Banjar yang sudah diwariskan turun-temurun. Parkir motor Rp2.000, mobil Rp5.000.
Pengaron di Kabupaten Banjar menyimpan tambang berlian tradisional yang sudah beroperasi sejak zaman kolonial. Saya sempat turun ke lubang tambang sedalam 15 meter—pengalaman yang bikin lutut lemas, tapi worth it. Tiket masuk Rp10.000 per orang, sudah termasuk pemandu lokal.
Di desa ini, Anda bisa membeli berlian mentah langsung dari penambang. Harganya bervariasi, mulai Rp500.000 untuk ukuran kecil. Tapi hati-hati: bawa uang tunai, karena sinyal telepon seluler sering hilang di area tambang. Jarak dari Banjarmasin sekitar 2 jam naik motor.
Terletak di Kecamatan Batu Benawa, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, desa ini punya air terjun bertingkat tujuh. Kolam alaminya dangkal—cocok untuk anak-anak. Saya datang bulan Juni, airnya sejuk banget, sekitar 22 derajat Celsius. Tiket masuk Rp5.000, parkir motor Rp2.000.
Akses jalannya cukup terjal, jadi pakai sepatu anti-slip. Warga lokal biasa jualan kelapa muda di area parkir, Rp10.000 per butir. Kalau lapar, ada warung nasi kuning dengan lakum (sayur kelapa muda) yang harganya cuma Rp15.000 per porsi.
Di Desa Sungai Rangas, Kabupaten Banjar, ada kampung yang mengembangkan pertanian organik sejak 2018. Saya ikut tur kebun sayur dan kolam ikan—bayar Rp25.000 per orang. Anda bisa memetik sayuran langsung, lalu dimasak bersama warga.
Desa ini juga punya homestay dengan tarif Rp100.000 per malam. Cocok untuk yang ingin merasakan hidup ala petani Banjar. Jangan lupa beli beras organik mereka—per kilogram Rp20.000, lebih murah dari supermarket. Waktu tempuh dari Banjarmasin sekitar 45 menit.
Di Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Tanuhi punya sumber air panas belerang yang mengalir langsung dari perut gunung. Saya rendam sekitar 30 menit—pegal-pegal langsung hilang. Tiket masuk Rp10.000, dan Anda bisa sewa handuk Rp5.000.
Lokasinya di kaki Pegunungan Meratus. Suasana pagi hari sangat sepi, cuma terdengar suara burung dan gemericik air. Tips: bawa air minum sendiri, karena warung di sana jual minuman kemasan dengan harga sedikit lebih mahal.
Di tengah Sungai Barito, tepatnya di Kelurahan Pulau Kembang, Banjarmasin, ada desa yang jadi rumah bagi kera bekantan. Saya naik perahu klotok dari dermaga Siring—tarif Rp50.000 per orang untuk 2 jam perjalanan. Bekantan biasanya keluar sekitar pukul 07.00 pagi, saat mereka mencari makan.
Warga desa juga menjual anyaman purun (rumput rawa) yang dibuat jadi tikar dan tas. Harganya mulai Rp30.000. Pastikan datang saat air sungai pasang, supaya perahu bisa mendekati hutan bakau tempat bekantan tinggal.
1. Berapa biaya mengunjungi desa-desa wisata di Kalimantan Selatan?
Kisaran biaya tiket masuk Rp5.000–Rp25.000 per orang. Homestay mulai Rp100.000 per malam. Makan di warung lokal Rp15.000–Rp30.000 per porsi.
2. Bagaimana cara mencapai desa-desa ini dari Banjarmasin?
Sebagian besar bisa dijangkau dengan angkutan umum atau sewa mobil. Waktu tempuh rata-rata 1–4 jam, tergantung lokasi. Jalanan beraspal, tapi beberapa ruas menanjak dan berkelok.
3. Kapan waktu terbaik berkunjung?
Musim kemarau (April–September) lebih disarankan karena jalanan kering dan air sungai tidak terlalu deras. Hindari Desember–Februari karena curah hujan tinggi.
4. Apakah desa-desa ini ramah untuk anak-anak?
Ya, terutama Desa Batu Tangga, Kampung Hijau Banjar, dan Pulau Kembang. Aktivitasnya ringan dan aman. Namun, untuk Loksado dan Pengaron, awasi anak-anak lebih ketat.
5. Perlukah pemandu lokal?
Untuk Loksado dan Pengaron, sangat disarankan. Pemandu biasanya bisa dihubungi melalui pengelola desa wisata setempat. Biaya sukarela, sekitar Rp50.000–Rp100.000.
Desa-desa ini bukan sekadar tempat foto—tapi ruang hidup yang masih berdetak dengan irama tradisi. Datanglah dengan rasa hormat, dan biarkan Kalimantan Selatan bercerita dengan caranya sendiri.