5 Pasar Tradisional Legendaris di Kalimantan Selatan yang Wajib Dikunjungi untuk Belanja Murah dan Kuliner Khas

Penulis: Yuda Pratama  •  Jumat, 05 Juni 2026 | 20:17:01 WIB
Pasar Sudimampir di Banjarmasin menjadi pusat belanja ikan segar dengan arsitektur khas Banjar sejak era kolonial.

Di Kalimantan Selatan, pasar terapung mungkin yang paling terkenal di mata wisatawan. Tapi bagi warga lokal, ada lima pasar tradisional darat yang usianya puluhan tahun dan tetap jadi andalan untuk belanja kebutuhan harian. Mulai dari Pasar Sudimampir di Banjarmasin yang sudah eksis sejak era kolonial, hingga Pasar Batuah Martapura yang jadi surga batu permata. Kelima pasar ini menyimpan cerita, aroma rempah, dan harga yang tak bisa ditandingi supermarket modern.

Setiap pasar punya jam sibuk yang berbeda. Pasar pagi biasanya ramai antara pukul 05.00-09.00 WITA, sementara pasar sore mulai hidup setelah Ashar. Tips dari pedagang lama: datang sebelum pukul 06.00 jika ingin dapat ikan air tawar segar tangkapan malam hari, atau datang setelah pukul 10.00 untuk harga sayur yang lebih miring karena pedagang mulai mengurangi stok.

1. Pasar Sudimampir – Pasar Tertua di Banjarmasin

Terletak di Jalan Sudimampir, Kelurahan Kertak Baru Ilir, pasar ini sudah beroperasi sejak tahun 1920-an. Bangunannya masih mempertahankan arsitektur khas Banjar dengan atap tinggi dan ventilasi silang yang membuat udara tetap sejuk meski tanpa AC. Di sini Anda bisa menemukan ikan haruan (gabus), patin, dan papuyu (betok) segar dengan harga Rp 25.000-Rp 40.000 per kilogram, tergantung ukuran.

Jam buka mulai pukul 04.00 hingga 14.00 WITA. Lokasinya sekitar 500 meter dari Masjid Raya Sabilal Muhtadin, bisa ditempuh dengan angkot jalur Biru atau ojek online. Tips dari ibu-ibu langganan: bawa tas belanja sendiri karena kantong plastik di sini dikenakan biaya Rp 500 per lembar sejak program pengurangan sampah plastik berlaku tahun 2023.

2. Pasar Terapung Muara Kuin – Ikon Wisata yang Masih Aktif

Berbeda dari pasar terapung yang hanya jadi atraksi turis di beberapa daerah, Pasar Terapung Muara Kuin di Kelurahan Kuin Utara masih berfungsi sebagai pusat jual-beli sungguhan. Setiap subuh, sekitar pukul 05.30-07.00 WITA, puluhan jukung (perahu kecil) berjejer di muara Sungai Kuin. Pedagang wanita bersanggul menjual sayur mayur, buah, dan kue tradisional seperti apam barabai dan wadai cincin.

Harga di atas perahu biasanya 10-15 persen lebih murah daripada di pasar darat karena tidak ada biaya sewa kios. Satu ikat kangkung Rp 3.000, pisang kepok mentah Rp 15.000 per sisir, dan apam barabai Rp 2.000 per buah. Anda bisa menyewa kelotok (perahu motor) dari dermaga Jalan Pangeran Hidayatullah dengan tarif Rp 50.000-Rp 100.000 untuk satu jam, tergantung negosiasi.

3. Pasar Batuah Martapura – Surga Batu Permata dan Intan

Di Jalan Ahmad Yani, Km 38, Martapura, pasar ini terkenal sejak ditemukannya tambang intan di Cempaka pada abad ke-18. Gedung utamanya berlantai dua dengan puluhan kios batu mulia. Anda bisa menemukan intan asli Martapura mulai dari Rp 500.000 per karat untuk kualitas rendah, hingga puluhan juta untuk kualitas safir. Tapi hati-hati: banyak batu sintetis yang dijual sebagai batu asli.

Jam buka resmi pukul 08.00-17.00 WITA, tapi sebagian besar pedagang baru buka setelah pukul 09.00. Tips dari pengrajin lokal: jika tidak paham batu mulia, mintalah sertifikat dari Balai Pengujian dan Sertifikasi Barang Berharga yang berada di lantai dua pasar. Biaya pengujian Rp 50.000 per batu dan hasilnya keluar dalam 15 menit. Selain batu, lantai dasar pasar menjual kain sasirangan khas Banjar dengan harga Rp 75.000-Rp 200.000 per lembar.

4. Pasar Lima Banjarmasin – Pusat Oleh-Oleh dan Kue Basah

Berlokasi di Jalan Pangeran Antasari, persis di perbatasan Kelurahan Antasan Besar dan Kelurahan Sungai Baru, pasar ini terkenal sebagai sentra kue basah tradisional. Setiap pagi, sekitar pukul 06.00, rak-rak dipenuhi bingka, putri selat, lapis legit banjar, dan wajik. Satu kotak bingka berukuran 20x20 cm dihargai Rp 25.000, sementara putri selat per porsi Rp 10.000.

Pasar Lima juga punya lantai khusus untuk penjual rempah-rempah khas Kalimantan seperti kayu manis batang, cengkih hutan, dan lada hitam Banjar. Harga rempah mulai Rp 5.000 per ons. Lokasinya strategis, hanya 200 meter dari Taman Siring, jadi mudah dijangkau pejalan kaki dari pusat kota. Waktu terbaik berkunjung adalah hari Sabtu pagi karena banyak pedagang dadakan yang menjual sayur organik dari petani pinggiran kota.

5. Pasar Anyar Banjarbaru – Pasar Modern dengan Sentuhan Tradisional

Meski namanya "Anyar" yang berarti baru, pasar di Jalan Ahmad Yani Km 36, Banjarbaru ini sudah beroperasi sejak 1980-an. Pasar ini unik karena menggabungkan konsep kios permanen dengan lapak semi-permanen di pelataran. Di sini Anda bisa menemukan daging sapi segar dengan harga Rp 120.000-Rp 140.000 per kilogram, lebih murah Rp 10.000-Rp 15.000 dibanding pasar di Banjarmasin.

Jam operasional dari pukul 05.00 hingga 18.00 WITA. Bagian belakang pasar terkenal dengan deretan penjual ikan asin dan udang kering. Satu kilogram udang kering ukuran sedang dihargai Rp 85.000, sedangkan ikan asin sepat Rp 40.000 per kilogram. Tips dari pedagang: tawar-menawar adalah tradisi yang dihormati, tapi jangan menawar di bawah 50 persen harga awal karena dianggap tidak sopan. Mulailah dengan tawaran 30 persen di bawah harga yang disebutkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

1. Pasar mana di Kalimantan Selatan yang buka 24 jam?
Tidak ada pasar tradisional di Kalimantan Selatan yang buka 24 jam penuh. Paling pagi adalah Pasar Sudimampir yang mulai buka pukul 04.00 WITA, dan paling malam adalah Pasar Batuah yang tutup pukul 17.00 WITA. Untuk belanja malam hari, warga biasanya ke minimarket atau pasar darurat yang kadang muncul di pinggir jalan utama.

2. Berapa biaya parkir di pasar-pasar ini?
Parkir motor di pasar tradisional Kalimantan Selatan berkisar Rp 2.000-Rp 3.000, mobil Rp 5.000-Rp 10.000. Di Pasar Terapung Muara Kuin, parkir motor di dermaga dikenakan biaya Rp 3.000. Pastikan Anda membawa uang receh karena juru parkir jarang punya kembalian besar.

3. Apakah pasar-pasar ini menerima pembayaran digital?
Sebagian besar pedagang di Pasar Lima dan Pasar Anyar sudah menerima QRIS, terutama generasi muda. Namun di Pasar Sudimampir dan Pasar Terapung, hampir semua transaksi masih tunai. Bawalah uang pecahan Rp 2.000, Rp 5.000, dan Rp 10.000 untuk memudahkan transaksi.

4. Kapan waktu terbaik mengunjungi Pasar Terapung Muara Kuin?
Waktu terbaik adalah antara pukul 05.30 hingga 07.00 WITA, saat jumlah perahu masih banyak dan matahari belum terlalu terik. Setelah pukul 08.00, sebagian besar pedagang sudah mulai pulang. Datanglah saat musim kemarau (April-September) karena air sungai tidak terlalu keruh.

5. Apa oleh-oleh khas yang wajib dibeli dari pasar-pasar ini?
Dari Pasar Batuah: intan atau batu mulia dengan sertifikat. Dari Pasar Lima: bingka, putri selat, dan kain sasirangan. Dari Pasar Anyar: udang kering dan ikan asin sepat. Harga kain sasirangan di pasar lebih murah 20-30 persen dibanding di toko oleh-oleh di pusat kota.

Kelima pasar ini bukan sekadar tempat belanja—mereka adalah museum hidup yang menampung sejarah, rasa, dan denyut ekonomi masyarakat Banjar. Jika Anda hanya punya waktu satu hari di Kalimantan Selatan, mulai dari Pasar Terapung Muara Kuin saat subuh, lalu lanjut ke Pasar Sudimampir untuk sarapan soto banjar, dan akhiri di Pasar Batuah Martapura untuk oleh-oleh. Tidak ada pengalaman lain yang bisa menandingi langsung berbaur dengan pedagang yang sudah tiga generasi melayani pelanggan setia mereka.

Reporter: Yuda Pratama
Back to top