KALIMANTAN SELATAN — Indonesia dianugerahi potensi panas bumi sekitar 24 gigawatt (GW), tetapi pemanfaatannya masih jauh dari optimal. Dari angka tersebut, PGE mengelola sekitar 3 GW di wilayah kerja panas bumi (WKP) perseroan dengan kapasitas terpasang 727 megawatt (MW) yang dioperasikan secara mandiri.
Direktur Utama PGE Ahmad Yani menegaskan bahwa kedaulatan energi tidak cukup hanya dengan memastikan pasokan listrik tersedia. Menurutnya, Indonesia harus mampu mengandalkan sumber energi dalam negeri untuk menopang pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
"Kedaulatan energi dimulai dari kemampuan kita mengandalkan kekuatan sendiri. Indonesia dianugerahi potensi panas bumi yang besar, dan tugas kita adalah mengubah anugerah tersebut menjadi manfaat yang nyata bagi masyarakat," ujar Ahmad Yani.
Panas bumi dinilai punya keunggulan strategis karena mampu beroperasi 24 jam tanpa bergantung bahan bakar impor dan tidak terpengaruh cuaca. Keandalan ini tercermin dari availability factor PGE yang mencapai 99,71 persen dan capacity factor 90,42 persen sepanjang semester I-2026.
Dari Listrik ke Pupuk: Panas Bumi untuk Petani
PGE tidak berhenti pada produksi listrik. Perusahaan mengembangkan pemanfaatan langsung panas bumi yang menyentuh sektor pertanian di sekitar wilayah operasional. Di Ulubelu, Lampung, misalnya, inovasi Melon Geothermal menggabungkan panas bumi dengan transfer pengetahuan kepada petani lokal.
Sementara di Lahendong, Sulawesi Utara, PGE bersama Universitas Gadjah Mada mengembangkan pupuk booster Katrili berbahan silika panas bumi. Inovasi ini membantu meningkatkan hasil panen, ketahanan tanaman, sekaligus menekan biaya pupuk petani.
Program serupa berjalan di Karaha melalui Eco Eduwisata Kampung Kopi yang menghasilkan Pupuk COMBINE dari brine panas bumi dan bahan organik lokal. Di Kamojang, sejak 2018, PGE bersama petani mengoperasikan Geothermal Dry House yang memanfaatkan uap buangan untuk mempercepat pengeringan kopi secara ramah lingkungan.
Menuju Satu Abad Panas Bumi Indonesia
Momentum HUT ke-81 RI menjadi spesial karena Indonesia akan memasuki satu abad perjalanan pengembangan panas bumi. PGE menilai ini saat yang tepat untuk mempercepat ekspansi kapasitas terpasang.
Sejumlah proyek strategis tengah disiapkan, antara lain PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 di Sumatra Selatan, PLTP Hululais Unit 1 dan 2 di Bengkulu, serta PLTP Lahendong Unit 7-8 dan Binary Unit di Sulawesi Utara. Proyek Gunung Tiga di Lampung juga masuk dalam daftar pengembangan perusahaan.
"Menjelang 100 tahun perjalanan panas bumi Indonesia, kami melihat masa depan dengan optimisme. Jika satu abad terakhir adalah perjalanan untuk membuktikan potensi panas bumi nasional, maka abad berikutnya adalah kesempatan untuk menjadikannya salah satu kekuatan utama Indonesia," kata Ahmad Yani.
PGE berkomitmen menjaga keandalan operasi, mempercepat pengembangan proyek, dan memperluas manfaat panas bumi. Langkah ini sejalan dengan agenda transisi energi nasional yang menempatkan panas bumi sebagai tulang punggung listrik bersih yang stabil dan berdaulat.