BALANGAN — Ritual Mesiwah Pare Gumboh bukan sekadar syukuran panen. Bagi masyarakat Dayak Deah di Desa Liyu, tradisi tahunan ini menjadi ruang untuk merawat identitas budaya dan memperkenalkannya ke generasi muda. Pada edisi kedelapan tahun ini, panitia menyiapkan tiga venue berbeda: Balai Adat untuk prosesi sakral, panggung budaya dan musik untuk hiburan, serta area camping bagi pengunjung yang ingin menikmati panorama alam desa.
Ketua Pelaksana, Budianto, mengatakan ada dua ritual inti yang menjadi pusat perhelatan. Pertama, Nyerah Ngemonta, yaitu tradisi penyerahan hasil panen secara simbolis. Kedua, Nengkuat Mulukng, ritual di mana pemilik hasil panen meminta pelaku adat untuk memanjatkan doa restu dan ucapan syukur kepada Sang Pencipta.
Atraksi Mandi Api dan Arak-arakan Adat Jadi Magnet Pengunjung
Selain prosesi adat, gelaran ini dimeriahkan atraksi mandi api dan arak-arakan adat yang menjadi daya tarik utama. Budianto menambahkan, kegiatan ini merupakan upaya bersama untuk melestarikan budaya sekaligus memperkenalkan kebudayaan masyarakat adat Dayak Deah ke khalayak yang lebih luas.
Bupati Balangan, H Abdul Hadi, melalui sambutan tertulis yang dibacakan Wakil Bupati Akhmad Fauzi, menyampaikan dukungan penuh terhadap pengembangan potensi pariwisata dan budaya di Desa Liyu. Ia berpesan agar panitia memberikan pelayanan optimal bagi pengunjung tanpa mengorbankan kearifan lokal dan nilai-nilai budaya setempat.
PT Adaro Indonesia: MPG Kini Menjadi Ruang Sosial dan Emosional
Community Insight & Engagement Section Head PT Adaro Indonesia, Yudi Febrinada, menilai Mesiwah Pare Gumboh (MPG) telah bertransformasi. Menurutnya, acara ini kini bukan sekadar festival, melainkan ruang sosial dan emosional yang menghubungkan orang-orang dari berbagai latar belakang menjadi satu keluarga.
“Melalui pendampingan masyarakat, kami turut membantu lahirnya ekosistem sosial yang mampu menghubungkan manusia dengan budaya dan alam di gelaran MPG,” jelas Yudi. Ia juga mengapresiasi seluruh pihak, mulai dari masyarakat Desa Liyu, tetua adat, hingga Pemkab Balangan, yang telah menjadikan budaya sebagai fondasi persaudaraan dan masa depan yang lebih baik.