KALIMANTAN SELATAN — Dasar Sungai Jeneberang di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, mengering saat musim kemarau dan menyingkap hamparan bebatuan berlekuk hasil erosi yang kini ramai dikunjungi warga. Fenomena ini muncul akibat penurunan debit air yang diperparah dampak El Niño, dan menjadi tontonan sementara sepanjang musim kering. Informasi terkini soal akses dan kondisi lokasi dapat dikonfirmasi ke dinas pariwisata setempat.
Lekukan pada bebatuan yang terbentuk akibat proses erosi menciptakan pemandangan berbeda dari biasanya. Dari kejauhan, hamparan batu yang membentang di sepanjang aliran sungai tampak seperti kawasan batuan alami, bukan dasar sungai yang tengah kehabisan air.
Warga memanfaatkan kondisi itu sebagai destinasi wisata dadakan. Mereka datang untuk menikmati suasana sekaligus mengabadikan momen dengan berfoto di area dasar sungai yang mengering.
Daya Tarik: Hamparan Batu Berlekuk di Dasar Sungai
Yang membuat lokasi ini menarik bukan airnya, melainkan justru ketiadaan air. Penurunan debit Sungai Jeneberang menyingkap formasi batuan yang biasa tertutup aliran sungai.
Lekukan-lekukan pada batu terbentuk lewat proses erosi jangka panjang. Pola inilah yang jadi buruan utama pengunjung untuk diabadikan, terutama saat cahaya pagi atau sore jatuh miring di permukaan batu.
Aktivitas yang Bisa Dilakukan
- Berfoto di hamparan batu yang membentang di dasar sungai
- Menikmati suasana terbuka di sepanjang aliran yang mengering
- Mengamati formasi batuan hasil erosi dari dekat
Kegiatan di lokasi ini murni menikmati lanskap dan mengabadikan momen. Tidak ada wahana atau fasilitas buatan di area tersebut.
Kapan Fenomena Ini Muncul
Dasar Sungai Jeneberang mengering pada musim kemarau. Kondisi tahun ini diperparah pengaruh fenomena El Niño yang menekan curah hujan di sejumlah wilayah.
Artinya, pemandangan ini bersifat sementara. Begitu debit air kembali naik, hamparan batu itu akan tertutup aliran sungai seperti biasa.
Catatan Sebelum Berkunjung
Di balik ramainya warga yang datang, kondisi ini menyimpan catatan penting. Mengeringnya Jeneberang menjadi gambaran berkurangnya debit air selama musim kering.
Bagi traveler yang hendak datang, waspadai permukaan batu yang licin dan hindari area yang masih berair. Bila hujan turun di bagian hulu, arus bisa naik cepat tanpa peringatan. Pastikan juga tidak meninggalkan sampah di lokasi.
Untuk informasi terkini soal akses jalan dan kondisi debit air, traveler disarankan menghubungi dinas pariwisata Kabupaten Gowa atau pengelola setempat sebelum berangkat.
Kunjungan ke lokasi seperti ini idealnya cukup satu sampai dua jam, cukup untuk menyusuri hamparan batu dan berfoto. Datang pada pagi atau sore hari agar tidak kepanasan, karena area ini terbuka tanpa naungan.