MARTAPURA — Seleksi Nanang Galuh Kabupaten Banjar kembali bergulir. Targetnya: mencetak generasi muda yang menjadi wajah promosi pariwisata daerah. Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Banjar, Irwan Jaya, menegaskan ajang ini bukan sekadar kompetisi tahunan.
“Ini bukan sekadar kompetisi. Kami ingin melahirkan putra-putri terbaik yang dapat berprestasi sekaligus ikut mempromosikan potensi wisata, seni, dan budaya Kabupaten Banjar,” ujarnya, Sabtu (4/6/2026) malam.
Anggaran Rp300 Juta untuk Duta Wisata
Disbudporapar belum merinci angka pasti dalam APBD. Namun total kebutuhan anggaran untuk rangkaian kegiatan hingga malam grand final diperkirakan mencapai Rp300 juta. Nominal ini menjadi sorotan karena publik menuntut bukti nyata bahwa investasi tersebut mampu mendorong peningkatan kunjungan wisatawan serta memperkuat citra Banjar sebagai destinasi unggulan di Kalimantan Selatan.
Destinasi Prioritas: Lok Baintan hingga Makam Syekh Arsyad Al-Banjari
Disbudporapar menargetkan para duta wisata aktif memanfaatkan media sosial untuk memperkenalkan sejumlah destinasi unggulan. Beberapa di antaranya adalah Pasar Terapung Lok Baintan yang menjadi destinasi prioritas nasional, serta Kompleks Makam Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari di Kelampayan sebagai unggulan provinsi. Destinasi lain seperti Matang Kaladan dan Bukit Bintang juga diharapkan semakin dikenal publik.
“Kami berharap dengan banyaknya pengikut di media sosial yang dimiliki para finalis, promosi destinasi wisata bisa lebih masif sehingga semakin banyak orang mengenal Kabupaten Banjar,” kata Irwan.
Tantangan: Mengangkat Destinasi yang Stagnan
Tantangan terbesar justru berada pada objek wisata yang belum berkembang optimal. Sejumlah kalangan menilai keberhasilan program Nanang Galuh seharusnya bisa diukur dari meningkatnya jumlah wisatawan atau lahirnya destinasi baru, bukan hanya dari kemeriahan acara tahunan. Pemerintah daerah pun berharap para duta wisata mampu mengangkat kawasan yang perkembangannya stagnan dan minim promosi.
Pertanyaan soal efektivitas ini menjadi pengingat: program duta wisata tidak bisa berjalan sendiri. Tanpa dukungan infrastruktur, aksesibilitas, dan strategi promosi yang terintegrasi, ajang semegah apa pun berisiko hanya menjadi seremonial tanpa dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat lokal.