BANJARMASIN — Pergeseran nyata terjadi di SMPN 7 Banjarmasin. Sekolah yang selama ini identik dengan antrean panjang dan kerumunan orang tua saat pendaftaran, kini mengandalkan sistem online sepenuhnya. Tidak hanya memindahkan formulir ke layar, tapi mengubah cara sekolah dan masyarakat berinteraksi dalam proses penerimaan siswa.
“Harapan kami sederhana, orang tua bisa mendaftar dari rumah, diskusi dulu sama keluarga, pilih jalur dengan lebih santai, dan berhati-hati saat mengunggah data,” ujar Toni Maxitop, MPd, Kepala SMPN 7 Banjarmasin, di sela-sela proses verifikasi data, Kamis (11/6/2026).
Strategi Orang Tua: Pantau Data Real-Time Sebelum Mendaftar
Fenomena menarik terpantau di jalur prestasi. Banyak pendaftar sengaja menunggu hingga hari-hari terakhir untuk mendaftar, memantau skor terendah yang masih diterima secara real-time. Komposisi nilai jalur rapor adalah 70 persen dari rata-rata rapor dan 30 persen dari nilai TKA.
Kalkulasi ini dimungkinkan karena sistem online menyajikan data sementara yang bisa diakses kapan saja. Transparansi semacam ini tidak dimiliki sistem offline sebelumnya.
Verifikasi Data: Bukan Hukuman, Melainkan Edukasi
Proses daring tidak berarti tanpa hambatan. Tim verifikasi menemukan sejumlah kesalahan input data orang tua, mulai dari titik lokasi tempat tinggal yang tidak akurat hingga nilai rapor dan hasil TKA yang keliru. Setiap ketidaksesuaian dikonfirmasi langsung dengan orang tua yang bersangkutan di ruang multimedia sekolah.
“Kami tidak mau ada anak yang dirugikan karena kesalahan input, kami hubungi orang tuanya, kami luruskan datanya bersama-sama, ini bukan hukuman, ini edukasi,” tegas Toni.
Kuota Afirmasi Penuh di Hari Kedua, Persaingan Zonasi Makin Ketat
Hingga hari kedua pendaftaran, data menunjukkan progres signifikan. Dari kuota 56 siswa di jalur rapor, 31 siswa sudah terverifikasi. Sementara di jalur afirmasi, 44 siswa resmi terverifikasi, artinya kuota afirmasi sebesar 17 persen dari total siswa sudah terpenuhi sepenuhnya.
Penuhnya kuota afirmasi di hari kedua menjadi sinyal bahwa persaingan di jalur zonasi akan semakin ketat. Tahun lalu, jarak terjauh pendaftar yang masih bisa diterima di jalur zonasi hanya sekitar 600 meter dari sekolah. Semakin dekat rumah, semakin besar peluang.
Infrastruktur Pendukung: Satu Operator per Jalur Pendaftaran
Untuk menghadapi tekanan pendaftaran yang mencapai sekitar 500 orang untuk 256 kursi, sekolah menyiapkan infrastruktur matang. Posko informasi didirikan, laptop disediakan dalam jumlah memadai, dan setiap jalur pendaftaran—prestasi, afirmasi, maupun APK/disabilitas—memiliki operator khusus. Bukan satu operator untuk semua, melainkan satu operator per jalur agar fokus.
Testimoni Orang Tua: Santai, Sambil Nemenin Anak
Ara mengaku awalnya ragu. Ia bukan orang yang terbiasa dengan urusan digital. Tapi kali ini berbeda. “Saya kira ribet, ternyata bisa dari rumah, santai, sambil nemenin anak,” katanya. Ia mendaftar melalui tautan resmi sekolah, mengunggah dokumen, dan menunggu konfirmasi.
Baginya, proses ini setidaknya menghilangkan beban fisik: tidak harus berdiri berjam-jam di bawah panas, tidak harus cuti kerja untuk antre, dan tidak harus membawa anak ikut berdesakan. “Mudah-mudahan lolos, tapi kalau pun belum, setidaknya prosesnya tidak bikin capek dulu,” ujarnya.
Prinsip Kepala Sekolah: Sistem Boleh Berubah, Tujuan Tetap Satu
Di penghujung proses, Toni Maxitop menegaskan satu prinsip yang ia pegang teguh. “Sistem boleh berubah, teknologi boleh berganti, tapi tujuannya satu: hasil maksimal untuk semua, dan tidak ada anak yang dirugikan.”