KALIMANTAN SELATAN — Pertamina EP Tambun Field menaikkan produksi gas Lapangan Jatinegara menjadi 12,3 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) pada Oktober 2026, naik 48% dari rata-rata 8,3 MMSCFD sebelum lapangan itu dikelola kembali oleh perusahaan pada Februari tahun ini. Lonjakan ini ditopang dua inovasi operasional, CEMARA dan STEP UP 2.0, yang membenahi kendala produksi di dua sumur. Bagi pelanggan gas di wilayah kerja Tambun, tambahan pasokan ini memperkuat keandalan distribusi energi di hilir.
Pertamina EP Tambun Field mengembalikan performa Lapangan Jatinegara lewat pendekatan yang lahir dari persoalan lapangan sehari-hari. Dua sumur yang sebelumnya bermasalah, JNG-003 dan JNG-004, kini berproduksi kembali setelah intervensi teknis dilakukan. Senior Manager Pertamina EP Tambun Field Totok Parafianto menyebut inovasi operasional sebagai kunci capaian tersebut.
Sumur JNG-003 selama ini terhambat tingginya produksi air yang bercampur dengan aliran gas. Tim operasi memeriksa kondisi di dalam sumur untuk melacak sumber masuknya air, lalu menentukan langkah perbaikan yang sesuai. Inovasi CEMARA menjadi dasar penanganan itu.
Hasilnya terukur. Produksi gas sumur JNG-003 melonjak dari 1,42 MMSCFD menjadi sekitar 2,7 MMSCFD. Pada waktu yang sama, produksi air anjlok dari 792 barel per hari menjadi sekitar 0,5 barel per hari. Beban penanganan air pun menyusut dan operasi sumur jadi jauh lebih efisien.
Persoalan berbeda dihadapi sumur JNG-004. Sumur ini sebelumnya belum kembali berproduksi karena ada hambatan di dalam lubang sumur. Lewat inovasi STEP UP 2.0, tim memakai alat WireGate™ RB Pulling Tool untuk mengangkat hambatan tersebut.
Setelah hambatan terangkat, pekerjaan perbaikan bisa dilanjutkan hingga sumur kembali beroperasi. Tambahan pasokan dari JNG-004 melengkapi kenaikan produksi yang sudah disumbang JNG-003, sehingga total produksi Lapangan Jatinegara menembus 12,3 MMSCFD pada Oktober 2026.
Parafianto menegaskan inovasi tidak hanya dikejar demi angka produksi. Efisiensi biaya, waktu, dan aspek lingkungan ikut menjadi pertimbangan dalam setiap solusi yang dijalankan pekerjanya.
"Capaian ini menunjukkan bahwa inovasi yang lahir dari kebutuhan operasi memberikan dampak nyata bagi capaian perusahaan. Kami terus mendorong seluruh pekerja untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperhatikan efisiensi biaya, waktu, dan aspek lingkungan," kata Totok Parafianto dalam keterangan pers, Selasa (3/11/2026).
Kenaikan 48% dalam hitungan bulan menunjukkan lapangan yang sempat dikelola kembali pada Februari tahun ini bisa cepat pulih. Penurunan produksi air di JNG-003 memberi efek berantai: biaya penanganan air berkurang, waktu operasi lebih singkat, dan sumur bisa diandalkan lebih lama.
Bagi Pertamina EP sebagai bagian dari Subholding Upstream Pertamina, capaian di tingkat lapangan seperti ini menjadi penopang target produisi gas nasional. Lapangan Jatinegara kini menyumbang pasokan yang lebih besar ke jaringan gas wilayah Tambun dan sekitarnya.
Perusahaan belum membeberkan target produksi berikutnya maupun rencana perluasan inovasi ke sumur lain. Namun arahnya cukup jelas: persoalan teknis di sumur tua diselesaikan lewat rekayasa operasional, bukan sekadar penambahan sumur baru.