Ustadz Haji Luthfi Syarkawi Thayib menilai popularitas bukanlah kehidupan yang menyenangkan. Dalam tausyiah Subuh di Masjid Assa'adah, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ia menegaskan orang populer pada hakikatnya hidupnya cape atau sengsara. Pernyataan ini ia sampaikan di hadapan jamaah seusai Salat Subuh, Sabtu.
BANJARMASIN — Popularitas kerap dianggap pencapaian tertinggi. Ustadz Haji Luthfi Syarkawi Thayib justru melihat sisi lain dari ketenaran. Dalam tausyiah Subuh di Masjid Assa'adah, Komplek Beruntung Jaya, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, ia mengingatkan bahwa orang populer pada hakikatnya hidup dalam kelelahan.
"Memang orang populer kelihatannya enak, namun pada hakikatnya yang bersangkutan itu cape atau sengsara," tegas Ustadz Luthfi di hadapan jamaah seusai Salat Subuh, Sabtu.
Beban utama orang populer bukanlah ketenaran itu sendiri, melainkan konsekuensi yang menyertainya. Mereka umumnya sibuk melayani orang-orang yang ingin berkenalan atau memiliki kepentingan lain. Akibatnya, mereka terpaksa mengatur jadwal khusus untuk menerima tamu.
Kesibukan ini menyita waktu dan tenaga yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat. Kepopuleran justru menjadi belenggu yang membuat seseorang kehilangan kendali atas waktunya sendiri.
Dalam kajian rutin "Kalam Hikmah" Ibnu Athaillah Askandari, filosof dunia Islam asal Mesir abad XII itu, Ustadz Luthfi menjelaskan bahwa seorang yang berilmu agama tinggi justru tidak ingin populer. Sikap ini dalam bahasa agama disebut khumul, atau dalam bahasa Banjar dikenal dengan istilah kada mau batampai (tidak mau terlihat orang).
Ustadz yang pernah menuntut ilmu di Bangil, Jawa Timur, dan nyantri di Pondok Pesantren Darussalam Martapura itu menerangkan bahwa khumul terbagi menjadi dua sisi. Pertama berkaitan dengan amal, dan kedua berkaitan dengan jiwa atau diri seseorang.
Untuk khumul yang berhubungan dengan amal, tujuannya adalah menghindari sifat ria dan hujub (bangga diri). Ustadz Luthfi menegaskan bahwa kedua sifat tersebut dapat membuat amal ibadah menjadi sia-sia.
"Karena mereka mengetahui, bahwa ria membuat amal percuma," demikian Ustadz Luthfi Syarkawi Thayib.
Sebagai ilustrasi, ia mencontohkan sosok Tuan Guru Haji Syarwani Abdan atau Guru Bangil, Jawa Timur, yang tidak pernah memperlihatkan keilmuan tingginya kepada publik, termasuk soal konsep "Nur Muhammad". Sikap rendah hati semacam inilah yang menurutnya patut diteladani oleh para penuntut ilmu.
Kajian Kalam Hikmah ini berlangsung rutin setiap Subuh. Pada pekan sebelumnya, materi yang dibahas adalah soal ikhlas yang merupakan rohnya amal. Pekan ini, Ustadz Luthfi menyambungnya dengan persoalan popularitas dan keikhlasan dalam beramal.